Sabtu, 17 September 2011

56. SUHEIL BIN ‘AMAR

SUHEIL BIN ‘AMAR
DARI KUMPULAN ORANG YANG DIBEBASKAN, MASUK GOLONGAN PARA PAHLAWAN
Tatkala ia jatuh menjadi tawanan Muslimin di perang Badar, Umar bin Khatthab r.a. mendekati Rasulullah saw. katanya:  ”Wahai Rasulullah . . . , biarkan saya cabut dua buah gigi muka Suheil bin ‘Amar hingga ia tidak dapat berpidato men­jelekkan anda lagi setelah hari ini . . . !”
Ujar Rasulullah saw.:  ”Jangan wahai Umar! Saya tak hendak merusak tubuh seseorang, karena nanti Allah akan merusak tubuhku, walaupun saya ini seorang Nabi … !” Kemu­dian Rasulullah menarik Umar ke dekatnya, lalu katanya:  ”Hai Umar! Mudah-mudahan esok, pendirian Suheil akan berubah menjadi seperti yang kamu sukai . . . !”
Hari-hari pun berlalu, hari berganti hari dan nubuwat Rasulullah muncul menjadi kenyataan . . . . Dan Suheil bin ‘Amar seorang ahli pidato Quraisy yang terbesar, beralih menjadi seorang ahli pidato ulung di antara ahli-ahli pidato Islam . . , serta dari seorang musyrik yang fanatik berbalik menjadi seorang Mu’min yang taat, yang kedua matanya tak pernah kering dari menangis disebabkan takutnya kepada Allah . .. ! Dan salah seorang pemuka Quraisy serta panglima tentaranya berganti haluan menjadi prajurit yang tangguh di jalan Islam . . . , seorang prajurit yang telah berjanji terhadap dirinya akan selalu ikut berjihad dan berperang, sampai ia mati dalam peperangan itu, dengan harapan Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya . – - !
Nah, siapakah dia orang musyrik berkepala batu yang kemu­dian menjadi seorang Muslim yang bertaqwa dan menemui syahidnya itu . . . ? Itulah dia Suheil bin ‘Amar . . . ! Salah seorang pemimpin Quraisy yang terkemuka dan cerdik pandai­nya yang dapat dibanggakan           Dan dialah yang diutus oleh kaum Quraisy untuk meyakinkan Nabi agar membatalkan rencananya memasuki Mekah waktu periatiwa Hudaibiyah … !
Di akhir tahun keenam Hijrah, Rasulullah saw. bersama para shahabatnya pergi ke Mekah dengan tujuan berziarah ke Baitullah dan melakukan ‘umrah  jadi bukan dengan maksud hendak berperang, tanpa mengadakan persiapan untuk pepe­rangan.
Keberangkatan mereka ini segera diketahui oleh Quraisy, hingga mereka pergi menghadang mereka hendak menghalangi Muslimin mencapai tujuan mereka. Suasana pun menjadi tegang dan hati Kaum Muslimin berdebar-debar. Rasulullah berkata kepada para shahabatnya: — “Jika pada waktu ini Quraisy mengajak kita untuk mengambil langkah ke arah dihubungkan­nya tali silaturahmi, pastilah kukabulkan … !”
Quraisy pun mengirim utusan demi utusan kepada Nabi saw. Semua mereka diberinya keterangan bahwa kedatangannya bukanlah untuk berperang, tetapi hanyalah untuk mengunjungi Baitullah al-Haram dan menjunjung tinggi upacara-upacara kebesarannya.
Dan setiap utusan itu kembali, Quraisy mengirim lagi utusan yang lebih bijak dan lebih diaegani, hingga sampai kepada ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi, seorang yang lebih tepat untuk diaerahi tugas seperti ini. Menutut anggapan Quraisy ia akan mampu meyakinkan Rasulullah untuk kembali pulang.
Tetapi tak lama antaranya ‘Urwah telah berada di hadapan mereka, katanya:
“Hai manalah rekan-rekanku kaum Quraisy . . . ! Saya sudah pernah berkunjung kepada Kaisar, kepada Kisra dan kepada Negus di iatana mereka masing-masing …. Dan sungguh demi Allah, tak seorang raja pun saya lihat yang dihormati oleh rakyat­nya, seperti halnya Muhammad oleh Para shahabatnya . . . ! Dan sungguh, sekelilingnya saya dapati suatu kaum yang sekali-­kali takkan rela membiarkannya dapat cedera . . . ! Nah, per­timbangkanlah apa yang hendak tuan lakukan masak-masak … ! “
Saat itu orang-orang Quraisy pun merasa yakin bahwa usaha­-usaha mereka tak ada faedahnya, hingga mereka memutuskan untuk menempuh jalan berunding dan perdamaian. Dan untuk melaksanakan tugas ini mereka pilihlah pemimpin mereka yang lebih tepat …. tiada lain dari Suheil bin ‘Amar ….
Kaum Muslimin melihat Suheil datang dan mengenal siapa dia. Maka maklumlah mereka bahwa orang-orang Quraisy akhir­nya berusaha untuk berdamai dan mencapai Saling pengertian, dengan alasan bahwa yang mereka utus itu ialah Suheil bin ‘Amar … !
Suheil duduk berhadapan muka dengan Rasulullah, dan terjadilah perundingan yang berlangsung lama di antara mereka, yang berakhir dengan tercapainya perdamaian. Dalam perunding­an ini Suheil berusaha hendak mengambil keuntungan sebanyak-­banyaknya bagi Quraisy. Didukung Pula oleh toleransi luhur dan mulia dari Nabi saw. yang mendasari berhasilnya perdamaian tersebut.
Dalam pada itu waktu berjalan terus, hingga tibalah tahun ke delapan Hijriyah …. dan Rasulullah bersama Kaum Muslimin berangkat untuk membebaskan Mekah, yaitu setelah Quraisy melanggar perjanjian dan ikrar mereka dengan Nabi saw. serta orang-orang Muhajirin pun kembalilah ke kampung halaman mereka setelah mereka dulu diusir daripadanya dengan paksa. Bersama mereka ikut Pula orang-orang Anshar, yakni yang telah membawa mereka berlindung di kota mereka, serta mengutama­kan mereka dari diri mereka sendiri …. Kembalilah Pula Islam secara keseluruhannya, mengibarkan panji-panji kemenangannya di angkasa luas …. Dan kota Mekah pun membukakan semua pintunya . . . . Sementara orang-orang musyrik terlena dalam kebingungannya ….
Nah, menurut perkiraan anda, apakah nasib yang akan ditemui sekarang ini oleh orang-orang itu, yakni orang-orang yang telah menyalah-gunakan kekuatan mereka selama ini ter­hadap Kaum Muslimin, berupa siksaan, pembakaran, pengucilan dan pembunuhan … ?
Rupanya Rasulullah yang amat pengasih itu tak hendak membiarkan mereka meringkuk demikian lama di bawah tekanan perasaan yang amat pahit dan getir ini. Dengan dada yang lapang dan sikap yang lunak dan lembut, dihadapkan wajahnya kepada mereka sambil berkata, sementara getaran dan irama suaranya yang bagai menyiramkan air kasih sayang berkumandang di telinga mereka:
“Wahai segenap kaum Quraisy . . . ! Apakah menurut sangkaan kalian, yang akan aku lakukan terhadap kalian?”
Mendengar itu tampillah musuh Islam kemarin Suheil bin ‘Amar memberikan jawaban:
“Sangka yang baik . . . ! Anda adalah saudara kami yang mulia …. dan putera saudara kami yang mulia … !”
Sebuah senyuman yang bagaikan cahaya, tersungging di kedua bibir Rasulullah kekasih Allah itu, lalu serunya:
“Pergilah kalian … ! Semua kalian bebas . . . ! “
Ucapan yang keluar dari mulut Rasulullah yang baru saja memperoleh kemenangan ini tidaklah akan diterima begitu saja oleh orang yang masih mempunyai perasaan, kecuali dengan hati yang telah menjadi peleburan dan perpaduan antara rasa malu, ketundukan dan penyesalan
Pada saat itu juga, suasana yang penuh dengan keagungan dan kebesaran ini telah membangkitkan semua kesadaran Suheil bin ‘Amar, menyebabkannya menyerahkan dirinya kepada Allah Robbul ‘Alamin. Dan keislamannya itu, bukanlah keislaman seorang laki-laki yang menderita kekalahan lalu menyerahkan dirinya kepada taqdir  saat itu juga. Tetapi  sebagaimana akan ternyata di belakang nanti — adalah keislaman seseorang yang terpikat dan terpesona oleh kebesaran Nabi Muhammad saw. dan kebesaran Agama yang diikuti ajaran-ajarannya oleh Nabi Muhammad, dan yang dipikulnya bendera dan panji-panjinya dengan rasa cinta yang tidak terbada … !
Orang-orang yang masuk Islam di hari pembebasan kota Mekah itu disebut “thulaqa’ ” artinya orang-orang yang dibebas­kan dari segala hukum yang berlaku bagi orang yang kalah perang, karena mereka mendapat amnesti dan ampunan dari Rasulullah itulah, dengan kesadaran sendiri berpindah aqidah dari kemusyrikan ke Agama tauhid, yakni ketika beliau bersabda:  ”Pergilah tuan-tuan . . . ! Tuan-tuan semua bebas … !”
Tetapi dari segolongan orang-orang yang dibebaskan ini karena ketulusan hati mereka, kebulatan tekad dan pengurbanan yang tinggi serta ibadat dengan hati yang suci mengantarkan mereka kepada barisan pertama dari shahabat-shahabat Nabi yang budiman. Maka di antara mereka itu terdapatlah Suheil bin ‘Amar.
Agama Islam telah menempa dirinya secara baru. Dicetaknya semua bakat dan kecenderungannya dengan menambahkan yang lainnya, lalu semua itu dipacunya untuk menegakkan kebenaran, kebaikan dan keimanan . . . . Orang-orang melukiskan sifatnya dalam beberapa kalimat: “Pemaaf, pemurah . . . , banyak shalat, shaum dan bersedekah . . . serta membaca al-Quran dan menangis disebabkan takut kepada Allah … !”
Demikianlah kebesaran Suheil! Walaupun ia menganut Islam di hari pembebasan dan bukan sebelumnya, tetapi kita lihat dalam keislaman dan keimanannya itu ia mencapai kebenaran tertinggi, sedemikian tinggi hingga dapat menguasai keseluruhan dirinya dan merubahnya menjadi seorang ‘abid dan zahid, dan seorang mujahid yang mati-matian berqurban di jalan Allah.
Dan tatkala Rasulullah berpulang ke Rafiqul Ala, demi berita itu sampai ke Mekah  waktu itu Suheil sedang bermukim di sana , Kaum Muslimin yang berada di sana menjadi resah dan gelisah serta ditimpa kebingungan, seperti halnya saudara­saudara mereka di Madinah.
Maka seandainya kebingungan kota Madinah dapat dilenyap­kan ketika itu juga oleh Abu Bakar r.a. dengan kalimat-kalimat­nya yang tegas:
“Barang siapa yang mengabdi kepada Nabi Muhammad maka sesungguhnya Nabi Muhammad telah wafat! Dan barang si­apa yang mengabdi kepada Allah, maka sesungguhnya Allah tetap hidup dan takkan mati untuk selama-lamanya … !”
Kita akan sama kagum dan terpesona melihat bahwa Suheil r.a., dialah yang tampil di Mekah, dan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di Madinah.
Dikumpulkannya seluruh penduduk, lalu berdiri memukau mereka dengan kalimat-kalimatnya yang mantap, memaparkan bahwa Muhammad itu benar-benar Rasul Allah dan bahwa ia tidak wafat sebelum menyampaikan amanat dan melaksanakan tugas risalat. Dan sekarang menjadi kewajiban bagi orang-orang Mu’min untuk meneruskan perjalanan menempuh jalan yang telah digariskannya.
Maka dengan langkah dan tindakan yang diambil oleh Suheil ini, serta dengan ucapannya yang tepat dan keimanannya yang kuat, terhindariah fitnah yang hampir saja menumbangkan keimanan sebagian manusia di Mekah ketika mendengar wa­fatnya Rasulullah … !
Dan pada hari itu pula, lebih dari saat-saat lainnya, ter­pampanglah secara gemilang kebenaran dari nubuwat Rasulullah saw IBukankah telah dikatakannya kepada Umar ketika ia meminta idzin untuk mencabut dua buah gigi muka dari Suheil sewaktu tertawannya di perang Badar:
“Jangan, karena mungkin pada suatu ketika kamu akan menyenanginya … !”
Nah, pada hari inilah dan ketika sampai ke telinga Kaum Muslimin di Madinah tindakan yang diambil Suheil di Mekah serta pidatonya yang mengagumkan yang mengukuhkan keimanan dalam hati, teringatlah Umar bin Khatthab akan Ramalan Rasulullah …. Lama sekali ia tertawa, karena tibalah hari yang dijanjikan itu, di saat Islam memperoleh man’faat dari dua buah gigi Suheil yang sedianya akan dicabut dan dirontok­kannya … !
Di saat Suheil masuk Islam di hari dibebaskannya kota Mekah . . . . Dan setelah ia merasakan manisnva iman, la berjanji terhadap dirinya yang maksudnya dapat disimpulkan pada kalimat-kalimat berikut ini:  ”Demi Allah, suatu suasana yang saya alami bersama orang-orang musyrik, pasti akan saya alami pula seperti itu bersama Kaum Muslimin! Dan setiap nafkah yang saya belanjakan bersama orang-orang musyrik, pasti akan saya belanjakan pula seperti itu bersama Kaum Mus­limin! Semoga perbuatan-perbuatan saya belakangan ini akan dapat mengimbangi perbuatan-perbuatan saya terdahulu … ! “
Dahulu dengan tekun ia berdiri di depan berhala-berhala. Maka sekarang la akan berbuat lebih dari itu berdiri di hadapan Allah Yang Mafia Esa bersama orang-orang Mu’min . . . ‘ Itulah sebabnya ia terus shalat dan shalat …. tekun shaum dan shaum . . . segala macam ibadat yang dapat mensucikan jiwa dan mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, pasti dilakukannya sebanyak-banyaknya … !
Demikian pula di masa silam, ia berdiri di arena peperangan bersama orang-orang musyrik menghadapi Islam! Maka sekarang ia harus tampil di barisan tentara Islam sebagai prajurit yang gagah berani, untuk memadamkan bersama para pendekar kebenaran, perapian Nubhar yang disembah oleh orang-orang Persi, dan mereka bakar di dalamnya saji-sajian rakyat yang mereka perbudak . . . , serta melenyapkan pula bersama para pendekar kebenaran itu kegelapan bangsa Romawi dan ke­dhaliman mereka, dan menyebarkan kalimat tauhid dan taqwa ke pelosok-pelosok dunia … !
Maka pergilah ia ke Syria bersama tentara Islam untuk turut mengambil bagian dalam peperangan-peperangan di sana. Tidak ketinggalan pada pertempuran Yarmuk, saat Kaum Muslimin menerjuni pertarungan yang terdahsyat dan paling sengit yang pernah mereka alami ….
Hatinya bagaikan terbang kegirangan karena mendapatkan kesempatan yang amat baik ini, guna menebus kemusyrikan dan kesalahan-kesalahannya di masa jahiliyah dengan jiwa­ raganya.
Suheil amat mencintai kampung halamannya Mekah, sampai lupa cinta yang dapat mengurbankan dirinya . . . . Walaupun demikian, ia tak hendak kembali ke sana setelah kemenangan Kaum Muslimin di Syria, katanya “Saya dengar Rasulullah saw. bersabda:
“Ketekunan seseorang pada sesuatu saat dalain perjuangan di jalan Allah, lebih baik baginya daripada awal sepanjang hidupnya … ! ” Hadits.
Maka sungguh saya akan berjuang di jalan Allah sampai mati, dan takkan kembali ke Mekah . . . !”
Suheil memenuhi janjinya ini . . . . Dan tetaplah ia berjuang di medan perang sepanjang hayatnya, hingga tiba saat keberang­katannya. Maka ketika ia pergi segeralah ruhnya terbang men­dapatkan rahmat dan keridlaan Allah … !
http://edywitanto.wordpress.com/2010/12/10/suheil-bin-amar/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar