Tampilkan postingan dengan label TULISAN FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN FIKSI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2016

Ayat-ayat Cinta 2 (Resensi)



Kalo ada orang yang bertanya, “Bagaimana penilaian terhadap novel Ayat-ayat Cinta 2?”

Saya akan jawab luar biasa. Novel penuh berisi pesan, pemikiran, fakta, cerita dan romantisme.

Habiburrahman El-Shirazy begitu pandai membaca fakta yang menimpa diri kaum muslimin saat ini. Dia juga begitu pandai mengemas cerita untuk menunjukkan bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan kaum muslimin.

Fahri, tokoh utama dalam novel ini tinggal di kota Edinburgh, Skotlandia. Dia tinggal di lingkungan yang majemuk. Ada Keira dan Jason; tetangganya yang amat membenci Islam. Kakak beradik ini amat membenci Islam, karena ayah mereka merupakan salah satu korban ledakan bom di stasiun kereta api bawah tanah. Berita yang beredar, pelaku ledakan adalah dari kalangan kaum muslimin.

Seringkali Fahri dan supirnya Paman Hulusi menemukan tulisan yang mencoreng kaca mobil Fahri. Seperti tulisan Islam=Satanic, Muslim=Monster.

Tapi apa yang dilakukan Fahri? Apakah Fahri marah-marah, melaporkan Keira dan Jason pada polisi? Karena bila hal ini dilaporkan ke polisi, Fahri punya bukti kuat hasil rekaman CCTV.

Fahri sebagai pengusaha butik, restoran dan minimarket juga punya rekaman CCTV tentang ulah Jason yang mencuri beberapa batang coklat. Hal ini sudah seringkali dilakukan oleh Jason.

Fahri memaafkan ini semua. Fahri mengajak Jason untuk bersahabat, bahkan menyekolahkannya sekolah bola. Hingga Jason menjadi pemain sepakbola professional.

Demikian pula, dengan sikap Fahri terhadap Keira. Keira yang memiliki bakat bermain biola, disekolahkan sekolah biola. Pengajarnya adalah pemain biola professional. Pesan Fahri pada pengajarnya agar Keira bisa menjadi juara biola tingkat international. Pengajarnya pun menyanggupinya.

Karena Fahri membantu Keira secara diam-diam, Keira tidak merasakan langsung kebaikan Fahri. Dia masih menganggap Fahri adalah ‘musuhnya’. Ini menjadi pergolakan batin bagi Fahri yang telah membantu Keira, tapi diperlakukan tidak adil.

Berbeda dengan bantuan Fahri yang diberikan kepada Jason. Semuanya dilakukan secara langsung dan terang-terangan. Jason merasakan langsung kebaikan dan ketulusan Fahri. Hingga Jason berniat untuk masuk Islam.

Nenek Catarina yang beragama Yahudi juga mendapat perlakuan ‘istimewa’ dari Fahri. Rumah nenek Catarina direbut oleh anak tirinya yang memang memiliki surat wasiat yang sah atas kepemilikan rumah itu. Nenek Catarina diminta untuk tinggal di panti asuhan oleh Baruch, anak tirinya itu. Tapi Fahri menampung nenek Catarina di rumahnya dan melayaninya layaknya terhadap orang tuanya.

Rumah nenek Catarina dijual oleh Baruch kepada seorang pembeli. Lalu Fahri mendatangi pembeli itu untuk membeli rumah itu kembali. Dia siap membayar dengan harga yang lebih. Rumah itu berhasil kembali ke nenek Catarina.

Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin benar-benar ditunjukkan oleh Fahri dalam aktivitas sehari-harinya.

Fahri yang bergelar Doktor dan mengajar di University Of Edinburgh, juga memiliki lingkungan akedemis. Lingkungan akedemis yang didominasi oleh non muslim, membuat Fahri harus pandai menjelaskan tentang Islam dengan sebenar-benarnya, dengan argument yang tajam.

Bahkan Fahri ikut sebuah forum debat di sebuah forum international yang bergengsi. Fahri dapat membantah dua orang lawan debatnya dengan argumen-argumen yang mematahkan.

Pengetahuan penulis tentang kebobrokan paham komunis dibahas di sini. Kesesatan pemahaman bahwa semua agama adalah sama, dikupas tuntas di sini juga. Kedudukan permasalahan Palestina juga didudukkan oleh penulis pada posisinya.

Di dalam novel ini, Fahri bertemu dengan salah seorang sahabatnya sewaktu di Kairo. Karena sama-sama lulusan Al-Azhar, maka pembicaraan mereka berdua penuh dengan makna. Terkadang terjadi perdebatan diantara mereka. Perdebatan diantara keduanya terlihat sengit dengan masing-masing argument yang mereka punyai.

Satu yang mengganggu pikiran saya. Fahri sebagai seorang hafidz Quran, pengetahuannya tentang Islam begitu teramat luas. Jenjang pendidikannya yang tinggi. Tapi mengapa dia mengizinkan Aisyah, isterinya untuk pergi ke Palestina tanpa didampingi seorang mahram pun? Hingga akhirnya Aisyah hilang di Palestina.

Namun kejanggalan yang terakhir ini, tidak menghilangkan kekaguman saya pada novel ini. Pesan, makna dan pemikiran dikemas dalam cerita, sehingga terasa ringan untuk dikunyah dan ditelan. Novel yang ada di tangan saya, sudah cetakan kelima, Desember 2015. Selamat membaca.

sumber image: http://www.harnas.co/

     

Sabtu, 22 Maret 2014

DENDANG SEORANG PENGANGGURAN (SERIAL UTARI)

   “Kenapa Pak? Kok makannya seperti ogah-ogahan?” Tanya bu Minah
        Tiba-tiba raut muka pak Udin nampak sendu.
        “Iya pak, makannya kok seperti itu. Enak loh masakan ibu,” Utari kembali menimpali perkataan ibunya.
        “Iya benar nak, masakan ibumu ini memang enak. Tapi bapak malu nak, untuk memakannya. Seharusnya makanan ini ada lewat hasil keringat bapak. Tapi ini lewat hasil kerja ibumu.” Jelas pak Udin
        Sejak pabrik tempat pak Udin gulung tikar, otomatis pak Udin tidak lagi bekerja. Dia kembali berstatus sebagai pengangguran.
        “Yah…jangan begitu pak…ini khan rezeki kita semua dan itu berarti milik kita semua. Jadi bapak juga berhak untuk memakannya,” bu Minah mencoba menjelaskan kepada suaminya yang kini menjadi lebih sensi.
***

        Jam dinding menunjukkan pukul 22.00, bu Minah nampak masih sibuk mencuci di kamar mandinya yang sederhana.
        “Sini bu, bapak bantuin..” tawar pak Udin
        “Gak usah pak. Bapak istirahat aja, besok kan mau cari kerjaan
        “Tapi kan ibu udah dari pagi kerja terus. Masak, mencuci pakaian kita, bersih-bersih rumah, sekarang mencuci pakaian tetangga kita.”
        “Yah begitu lah pak resiko menjadi buruh cuci.”
        “Iya tapi kan bapak dari tadi pagi, gak kerja apa-apa. Masa pekerjaan rumah ibu yang kerjakan dan mencari nafkah juga ibu yang kerjakan, sedangkan bapak nganggur tidak berbuat apa-apa?” wajah sendu pak Udin yang setengah memohon nampaknya berhasil meluluhkan hati bu Minah.
        Bu Minah pun mengizinkan suaminya untuk membantu. Pak Udin senang sekali diizinkan untuk membantu. Tugasnya adalah memeras cucian.
        Nampak wajah pak Udin lebih cerah. Mungkin dia merasa bahwa dirinya mulai ada artinya lagi dalam keluarganya.

***

        “Bu ada uang dua puluh ribu gak?” tanya pak Udin
        “Buat apa pak? Buat ongkos? Bukannya bapak rencananya hari ini mau istirahat cari kerjaan?” tanya balik Bu Minah
        “Iya tadinya sih. Tapi bapak jadi teringat, sekarang khan hari Jumat.”
        “Trus?”
        “Kalau bapak shalat Jumat di dekat-dekat rumah kita, bapak nanti akan ketemu dengan tetangga-tetangga dan mereka akan bertanya, “Kok gak kerja pak Udin?”
        Bu Minah nampak sedikit menarik nafas. Kok jalan pikirannya seperti itu yah? Perasaan bapak sejak menjadi pengangguran begitu amat sensi.
TULISAN INI SEBELUMNYA TELAH DIPUBLISH DI AKUN FACEBOOK SAYA ATAS NAMA ARYA NOOR AMARSYAH

Senin, 10 Februari 2014

TAPI NGANTUK USTADZ

“Allahu Akbar..Allahu Akbar..iqamat Subuh berkumandang di masjid Nurul Ilmi.
            Ada dua shaf pria bercampur sekitar lima anak nampak berdiri. Mereka berdiri tertunduk sambil menyimak bacaan ustadz Syukri yang pada saat itu menjadi imam. Sementara muridnya, Reda nampak menguap, “Oaamh,” Di sebelahnya teman sebaya di SD Purnama, Amir namanya, sedang garuk-garuk kepala.
            Di shaf kedua, tiga anak kecil teman sekelas Reda dan Amir ikut berbaris. Anak-anak kelas empat SD ini, nampak berdiri tidak tegap. Ada yang menguap dan ada yang mengangguk-angguk karena masih ngantuk.
            Semuanya mengikuti gerak ustadz Syukri, sesuai komandonya. Mereka ruku, sujud, duduk diantara dua sujud hingga tasyahud akhir.
            “Assalamu’alaikum warahmatullah…” ustadz Syukri menutup shalat, menoleh ke kanan dan ke kiri.
            Jamaah pun mengikutinya di belakang. Menoleh ke kanan dan kiri.
            Sebelum berzikir usai shalat, ustadz Syukri berkata, “Anak-anak, sekarang mengajinya habis shalat Subuh yah?”
            Reda menoleh ke ayahnya yang berada di sisinya. Dan ayahnya langsung mengangguk tanda setuju.
Amir langsung bertanya pada ayahnya, “Gimana yah?”
            “Gak papa, khan kamu diantar ayah ke sekolah. Insya Allah tidak terlambat ke sekolah,” jawab pak Abdurrahman.
            Sementara tiga anak lainnya, Supri, Iman dan Darto hanya diam. Tidak bisa berbuat apa-apa. Orang tua mereka tidak biasa shalat berjamaah di masjid.
            Pak Abdurrahman melihat kondisi ini. “Supri, Darto dan Iman, kalian jangan khawatir. Bapak akan menyampaikan pada orang tua kalian. Kalian masih di masjid, mengaji dengan ustadz Syukri.”
            Supri, Darto dan Iman yang semulanya bengong, kini sudah dapat tersenyum.
***
            Tiga puluh menit sudah lewat. Semua murid-murid ustadz Syukri telah menutup Al-Qu’ran.
            “Ustadz punya cerita, ada yang mo denger?”
            Anak-anak hanya diam. Nampak mereka masih agak mengantuk
            “Ada yang mo dengar gaak?” dengan nada jenaka ustadz Syukri bertanya
            “Mauuuuuu stadz”
            “Di suatu pagi, Rasulullah pernah bertanya, “Siapa yang di pagi hari seperti ini, telah mengurus jenazah?”
Para sahabat terdiam, hanya Abu Bakar saja yang sudah mengurus jenazah di pagi hari.
            Rasul kembali bertanya, “Siapakah di pagi-pagi seperti ini ada yang sudah memberi makan orang miskin?”
            Tidak ada yang menyatakan dirinya telah memberi makan orang miskin di pagi hari, kecuali sahabat Abu Bakar Ash-Shiddieq.
            Rasul bertanya lagi, “Siapa diantara kalian yang pagi hari seperti ini telah menjenguk orang sakit?”
            Hanya sahabat Abu Bakar saja yang telah menjenguk orang sakit di pagi hari itu.
            Sahabat Umar bin Khaththab merupakan orang yang selalu ingin bersaing dalam kebaikan dengan Abu Bakar. Namun beliau selalu kalah dengan Abu Bakar. Ketika di saat sulit, tepatnya di saat peperangan, kaum muslimin membutuhkan biaya yang cukup banyak. Abu Bakar tanpa ragu-ragu lagi menyumbangkan seluruh hartanya.
            Sampai-sampai Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak dan isterimu?”
            Abu Bakar menjawab, “Saya meninggalkan untuk anak dan isteri, cukup Allah dan Rasul-Nya saja,”
            Sementara itu, Umar bin Khaththab hanya menginfakkan setengah hartanya.
            Oleh karenanya wajar saja ketika mendengar bahwa Abu Bakar Ash-Shiddieq sudah melakukan berbagai amal shalih, di saat hari masih pagi.
            “Naaah, gimana ceritanya?”
            Anak-anak yang tadinya terlihat mengantuk, nampak masih memperhatikan cerita ustadz Syukri
            “Itulah alasan ustadz memindahkan jadwal ngaji kita ke pagi hari. Sejak pagi kita sebaiknya sudah mulai melakukan amal shalih. Bukankah dalam cerita di atas sahabat Rasulullah Abu Bakar Shiddieq telah mencontohkan demikian. Walau hari masih pagi, dia telah melakukan berbagai amal shalih.”
            “Trus..berlombalah kalian dalam kebaikan. Seperti Umar yang tidak mau kalah dengan Abu Bakar,”
            “Tapi ngantuk ustadz,” jelas Reda
            “Iya..ustadz juga mengerti. Ini baru percobaan. Besok dan lusa, kita coba lagi. Tapi ngantuk-ngantuk, tadi kamu kayaknya asyik mendengarkan cerita ustadz?”
            “Iya stadz. Kalo gitu ngajinya cerita aj stadz,” pinta Reda
            Ustadz Syukri hanya tersenyum. Dia berniat akan mendiskusikan perubahan jadwal ini dengan para orang tua dari murid-muridnya itu.

            Terisnpirasi dari
  1. Pada suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, “Siapakah diantara kalian yang pada pagi hari ini dalam keadaan puasa?” Abu Bakar menjawab, “Saya,” Rasulullah kembali bertanya, “Siapakah diantara kalian yang pagi hari ini telah mengurus jenazah?” Abu Bakar menjawab, “Saya,” Rasul kembali bertanya untuk yang ke sekian kalinya, “Siapakah diantara kalian di pagi hari ini yang telah memberi makan orang miskin.” Abu Bakar menjawab, “Saya,” Rasul kembali bertanya, “Siapakah diantara kalian di pagi hari ini yang telah menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya,” Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membiasakan diri melakukan keempat hal itu, maka dia akan masuk surga,” (HR Muslim)
  2. Rasulullah saw bersabda, “Ya Allah berkahilah ummatku di pagi hari. Dan Rasulullah selalu mengirim pasukannya di pagi hari.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
  3. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukharino. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
  4. TULISAN INI SEBELUMNYA TELAH DIPUBLISH DI AKUN FACEBOOK SAYA ATAS NAMA ARYA NOOR AMARSYAH

HATI YANG SELALU TERPAUT DENGAN MASJID

“Shadaqallahuladziim” suara anak-anak menutup tadurasan di masjid Nurul Ilmi
“Anak-anak…Besok tes hapalan yah?” ustadz Syukri berpesan
“Surat apa stadz?”
“Yang tadi hapalan surat An-Naas, besok tesnya surat An-Naas. Yang hapalannya surat Al-Falaq, besok tesnya surat Al-Falaq,”
“Iya ustaaaadz,”
“Sebelum pulang, ustadz ada sebuah cerita, mo denger?”
“Mauuu,” jawab anak-anak serempak
“Pak ustadz punya temen pemilik sebuah restoran. Restoran ini menyediakan mie goreng, bakmi dan nasi goreng. Pelanggan makanan restoran pak Syuman itu tersebar di berbagai pelosok kota Jakarta.”
Anak-anak memperhatikan ustadz Syukri yang sedang berkisah itu. “Salah satu karyawannya bernama Rahmat. Rahmat mendapat tugas mengantarkan pesanan ke rumah-rumah.”
Cerita pun dimulai..
“Rahmat! Tolong antarkan pesanan bu Leni di gedung Hijau. Kamu tahu khan? Dah pernah ke sana?” tanya pak Syuman
“Iya pak, dah tahu.”
“Coba kamu pergi menemui Mirna. Tanyakan pesanan bu Leni dah siap belum?”
“Baik pak,”
Beberapa menit kemudian. “Pak saya berangkat yah..”
“Ya. Hati-hati Mat,” pesan pak Syuman
“Ya pak,”
Pintu restoran dibuka. Rahmat terlihat menuju parkiran motor. Pesanan bu Leni diletakkan dalam box belakang motor.
Pandangan pak Syuman belum lepas dari Rahmat, karyawan kesayangannya. “Rahmat..Rahmat..Kamu memang karyawan saya yang luar biasa,” gumam pak Syuman nyaris tak terdengar.
Satu setengah jam telah berlalu, tiba-tiba ponsel milik pak Syuman bergetar. “Hallo selamat siang,”
“Selamat siang juga pak Syuman,”
“Oo..bu Leni. Apa kabar bu? Pesanannya sudah sampai?”
“Alhamdulillah. Baik pak. Saya senang sekali, pesanan telah sampai sebelum tamu-tamu datang. Tamu-tamu saya puas. Mereka senang dengan mie goreng dan nasi goreng dari restoran bapak. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada Rahmat ya pak. Dia selalu tepat waktu, bahkan datang sebelum waktu yang saya minta.”
“Terima kasih. Alhamdulillah kalau bu Leni senang dan puas dengan service kami. Insya Allah, salam dari ibu akan saya sampaikan pada Rahmat. Dia memang karyawan yang paling saya andalkan. Sekali lagi terima kasih.”
***
Pukul 16.30
“Rahmat..coba ke ruangan saya!” pinta pak Syuman
“Baik pak,”
Rahmat mengikuti langkah pak Syuman.
“Apa kabar hari ini Mat?”
“Alhamdulillah pak,”
“Kamu memang karyawan saya yang dapat diandalkan. Terima kasih ya Mat,”
“Alhamdulillah. Memangnya ada apa pak?”
“Bu Leni titip salam. Dia sangat berterima kasih. Karena kamu datang sebelum tamu-tamunya tiba.”
“ ‘Alaihassalam wa ‘alaikumussalam. Biasa pak, sudah tugas,”
“Ngomong-ngomong, bagaimana cara kamu mengatur waktu Mat?”
“Alhamdulillah, saya mencoba membiasakan diri untuk tidak menunda-nunda pekerjaan.”
“Terus apa lagi, tips kamu Mat? Mungkin ini akan berguna buat teman-teman kamu yang lain,” tanya pak Syuman
“Saya mencoba untuk selalu shalat tepat waktu. Alhamdulillah, saya banyak tahu masjid dan mushalla di Jakarta ini, pak. Saya tahu masjid di dekat rumah bu Leni. Juga tahu masjid yang letaknya sekitar 200 m dari rumah pak Parman.”
“Jadi selain kamu tahu rumah langganan-langganan kita, kamu juga tahu masjid terdekat dari kediaman mereka?”
“Ya pak, Alhamdulillah. Saya sengaja berangkat lebih awal ke rumah pelanggan, agar dapat menunaikan shalat berjamaah di masjid,” jawab Rahmat
***
“Begitu anak-anak, kisahnya.” ujar ustadz Syukri
“Kisah Rahmat yang selalu ingin menunaikan shalat berjamaah di masjid. Hatinya selalu terikat dengan masjid. Seperti kalian yang datang setiap hari ke masjid ini untuk mengaji. Hati kalian selalu terikat dengan masjid.”

Referensi;
Dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya:
  1. Imam yang adil,
  2. pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah,
  3. seorang lelaki yang hatinya selalu terpaut dengan mesjid,
  4. dua orang lelaki yang saling mencintai kerana Allah dan berpisah kerana Allah,
  5. seorang lelaki yang dipanggil untuk berbuat mesum oleh seorang wanita yang memiliki kekuasaan dan kecantikan dan dia berkata saya takut kepada Allah,
  6. dan seorang lelaki yang bersedekah dengan sebuah sedekah kemudian dia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah dishedekahkan oleh tangan kanannya”.
  7. Seorang laki-laki yang menyendiri dalam zikir kepada Allah, lalu air matanya berlinang. (HR. Bukhari: no: 1432 dan Muslim no: 1031. Abu Daud dan Ibnu Majah)   
  8. TULISAN INI SEBELUMNYA TELAH DIPUBLISH DI AKUN FACEBOOK SAYA ATAS NAMA ARYA NOOR AMARSYAH

NAH ITU PAK! SAYA SETUJU ITU

“Ow!” teriak Amar
Shinta sang pemukul hanya senyum-senyum saja. Sambil menggoyang-goyangkan gulungan kertas, dia berkata, “Denger gak penjelasan pak Uki tadi?”
“Yang mana?”
“Doa orang yang didzalimi itu dikabulkan, begitu khan?”
“Iya itu yang dijelaskan pak Uki tadi,” Amar belum sadar arah pembicaraan Shinta.
“Nah, mo dikabulkan doanya gak?” tanya Shinta sambil mukul kepala Amar dan langsung mengambil langkah seribu
“Ow!”
Amar segera mengejar Shinta. Dua seragam abu-abu bekejaran. Rok panjang yang dikenakan Shinta menghalanginya berlari kencang. Tapi hal ini membuatnya semakin berusaha berlari sekencang-kencangnya.
“Eh…eh…,” teriak pak Uki kaget hampir tertabrak Shinta.
“Hah..hah..ma..ma..af pak!” Shinta terengah-engah
Tak lama kemudian Amar datang
“Ada apa ini?” tanya pak Uki sambil senyum
“Ini pak! Amar mengejar-ngejar saya,” adu Shinta
“Ini Shinta pak! Mukul-mukul saya,” Amar tidak mau kalah
“Khan kata bapak tadi, doa orang dzalimi akan dikabulkan doanya, maka saya mukul Amar, biar dia merasa terdzalimi dan doanya dapat dikabulkan,” jelas Shinta sambil senyum-senyum pura-pura tidak bersalah
“Oooo….begitu ceritanya,” pak Uki tersenyum
“Sekarang masih waktu istirahat khan? Yuk masuk!” pak Uki mengajak Amar dan Shinta masuk ke ruangan guru
Amar dan Shinta saling berpandangan. “Kamu sih..,” Amar menyesalkan tindakan Shinta
“Biarin, kita khan biasa bercanda,”
Di ruang guru itu, Amar dan Shinta dibawa ke pojok ruangan menuju meja khusus yang memang disediakan untuk pak Uki.
Pak Uki memperhatikan sikap Amar dan Shinta yang selalu menunduk. Beliau tersenyum, “Kalian tidak perlu takut, saya tidak akan menghukum kalian kok. Saya cuma mau membahas dalil tadi. Dalil yang menyatakan takutlah kalian pada doa orang yang didzalimi. Karena diantara dirinya dan Allah tidak ada penghalang.”
“Memang demikian,” jelas pak Uki
“Berarti saya harus takut pada Amar yang telah didzalimi donk pak?” tanya Shinta
Senyum kembali mengembang di wajah pak Uki, “Kamu khan bercanda dan Amar tidak merasa didzalimi, ya khan Mar?”
“Iya pak, saya juga tahu Shinta bercanda. Dia memang biasa begitu,”
“Wee…” Shinta menjulurkan lidahnya
“Kalian tahu gak kapan lagi doa-doa kita makbul, dikabulkan oleh Allah.”
“Kata mama waktu tahajud pak,” jawab Shinta
“Ya benar, sepertiga malam terakhir,” pak Uki membenarkan
“Waktu itu, bapak juga bilang insya Allah berdoa antara adzan dan iqamat akan dikabulkan oleh Allah,” Amar menyusul
“Terus kapan lagi?”
“Oh iya, waktu kita sedang berpuasa,”
“Kamu benar Shinta!”
“Terus..?”
Amar dan Shinta hanya diam. Sekarang apa yang kalian mohonkan kepada Allah, di saat waktu-waktu makbul itu?”
“Kalo saya, minta pada Allah agar gaji bapak saya dapat naik,” jelas Shinta
“Emangnya kenapa Shin?”
“Biar uang jajan Shinta nambah pak,”
“Kalo nambah mau beli apaan?”
“Bapak mau tahu aja,”
“Kalo kamu Mar, minta apa di waktu makbul itu?”
“Saya minta punya adik yang gak ngerepotin seperti ini pak,” jawab Amar asal sambil menunjuk pada Shinta
“Wee..” kembali Shinta menjulurkan lidahnya
Pak Uki diam, demikian pula Shinta dan Amar
“Kalau bapak, minta apa pak di waktu makbul?” tanya Shinta
“Iya pak atau sebaiknya kita minta apa ya pak?” tanya Amar
“Iya itu, doa sapu jagad. Minta kebahagiaan dunia dan akhirat. Khan dah mencakup tuh”
Amar dan Shinta mencoba mencerna ucapan guru agamanya itu.
“Atau…mungkin kita memohon pada Allah agar doa kita selalu dikabulkan,” pak Uki berkata seolah mengusulkan
Mata Shinta langsung berbinar dan mengangkat tangannya sambil mengarahkan telunjuknya ke pak Uki, “Nah itu pak. Saya setuju itu,



TULISAN INI SEBELUMNYA TELAH DIPUBLISH DI AKUN FACEBOOK SAYA ATAS NAMA ARYA NOOR AMARSYAH