Tampilkan postingan dengan label SEJARAH KHALIFAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH KHALIFAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2013

Dari Mana Kaudapatkan Uangnya?


Dari Mana Kaudapatkan Uangnya?

DI BAWAH  pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, wilayah kerajaan kian meluas dan kehidupan rakyat kian terjamin. Ini tidak lepas dari kepiawaian Umar dalam menjalankan kebijakan politik. Istananya tidak kalah megah dibandingkan dengan istana para kepala negara lainnya. Indah dan anggun, dihiasi taman bunga yang berwarna-warni.

Namun kehidupan pribadi Umar justru jauh dari mewah. Itu terlihat jelas dari segala tindak-tanduknya. Baik yang menyangkut kepentingan negara maupun rakyatnya. Umar hidup sederhana saja. Ia tidak mau menikmati sesuatu sebelum tahu asal-usulnya, atau haram-halalnya.

Pernah pada suatu kali, istrinya merasa sangat kasihan melihat suami tercintanya itu hanya makan roti tawar dan keras setiap hari. Maka ia menyediakan roti gandum yang lebih lezat dengan racikan daging domba di dalamnya. Ketika Umar disodori hidangan itu, ia terbelalak. Ini istimewa baginya. Ia bertanya kepada istrinya, “Dari mana kauperoleh makanan mewah ini?”

“Aku bikin sendiri, suamiku, Amirul Mukminin…” jawab istrinya tertunduk.

Umar memperhatikan muka istrinya. “Uangnya dari mana sampai kau bisa membeli semua ini?”

Istrinya menarik nafas panjang. “Aku berhemat dari uang belanja yang kauberikan. Aku kumpulkan sedikit demi sedikit selama satu bulan belakangan ini.”

Kepala Umar mangut-mangut, mengerti, “Berapa semuanya ini?”

Tanpa curiga sang istri menjawab, “Tiga setengah dirham… Amirul Mukminin.”

Umar kelihatan terkejut mendengar jawaban istrinya itu, “Tiga setengah dirham? Banyak sekali. Itu cukup untuk memberi makan dua orang selama dua hari.”

Lalu ketika itu juga Umar memanggil salah seorang pembantunya, “Muzahim, apakah engkau di sini makan kenyang?”

“Kadang-kadang malahan terlalu kenyang…” ujar Muzahim singkat.

“Apakah makanan yang kaumakan di sini lezat?”

Muzahim mendehem, “Jauh lebih lezat daripada makanan yang ada di rumah saya, Amirul Mukiminin.”

“Kalau begitu,” Umar berkata tegas, “kurangi biaya keluargaku dengan tiga setengah dirham sejak bulan ini. Karena belanja yang biasa kuberikan kepada istriku, bisa disimpan tiga setengah dirham tiap bulannya.”

Umar lantas memotong roti di meja, dan dimakannya sebagian guna menyenangkan hati istrinya. Selebihnya diberikan kepada beberapa anak yatim.

Hari berikutnya, seorang perempuan datang untuk mengadu kepada Umar. Ia ditemui istrinya, menunggu Umar yang masih berada di dalam. Tidak berapa lama kemudian Umar muncul seraya menenteng dulang berisi buah anggur. Umar menyuguhkannya kepada perempuan itu beberapa buah yang masih segar dan manis. Tiap kali ia menerimanya, perempuan itu selalu mengucap “alhamdulillah,” sehingga Umar sangat gembira. Sisanya yang hampir busuk dipisahkannya untuk dimakan sendiri bersama keluarganya. Setelah itu, barulah ia menanyakan kebutuhan maksud kedatangan perempuan yang berbudi itu.

Dengan hati-hati. Perempuan itu mengatakan terus-terang perihal lima orang anaknya yang tidak mempunyai pekerjaan. “Bantulah kami, wahai Amirul Mukminim.”

Seketika Umar berlinang-linang air matanya. Ia menyesali dirinya karena sebagai pemimpin ia tidak tahu bahwa di antara rakyatnya masih ada yang tidak punya pekerjaan. Sementara ada pula yang bertumpuk jabatannya.

“Coba sebutkan nama anak Ibu yang pertama,” ujar Umar kepada wanita itu.

Wanitu itu menurut. Disebutkannya nama sang anak. Umar menuliskannya pada selembar kertas disertai jumlah bantuan yang akan diberikan. Keputusan itu disambut dengan suka cita dan wanita itu berucap “alhamdulillah”. Ketika disebutkannya anak nomor dua, nomor tiga dan nomor empat, Umar juga melakukan hal yang sama yaitu menuliskan nama-nama mereka dan menuliskan sejumlah bantuan kepada mereka. Si ibu juga menjawab “alhamdulillah.”

Namun, ketika tiba giliran anak nomor lima, saking girangnya karena jumlah yang diberikan oleh Umar begitu besarnya, ibu itu buru-buru membungkukkan badannya seraya berkata, “Terima kasih, terima kasih, Tuan….”

Mendadak wajah Umar merah padam. Ia memberengut dan terlihat marah. Serentak ia menyobekkan kertas yang kelima yang tengah digenggamnya itu. Si perempuan jelas keheranan. Umar berkata tegas, “Sampai anak keempat, Ibu selalu mengucap alhamdulillah, suatu pernyataan syukur kepada Zat yang berhak menerimanya, karena Dialah pada dasarnya yang mempunyai kuasa memberi dan mengambil. Tetapi giliran anak kelima, Ibu malahan berterima kasih kepada saya. Apa sebabnya?”

Si ibu tampak pucat mukanya.  Dengan terbata-bata ia menyahut, “Tuan amat dermawan dan berhati mulia.”

“Maaf, ucapan itu tidak layak Ibu limpahkan kepada saya,” Umar menjawab sambil terus memandangi wajah si ibu yang masih pucat dan tertunduk. “Apalah daya saya ini sampai Ibu memuji-muji saya? Bukankah segala puji itu hanya milik Allah? Saya ini tidak berdaya dan tidak berbeda dengan Ibu. Bahkan di depan Allah, mungkin saya lebih hina karena hisab Ibu sangat ringan, sedangkan hisab saya berat sekali. Untuk itu saya hanya berkewajiban memberikan bantuan kepada empat anak Ibu saja. Sebab hanya untuk mereka Ibu telah berterima kasih kepada Zat yang layak dipuja-puja. Tetapi hendaknya bantuan saya itu dibagi-bagikan secara adil buat seluruh keluarga.” [sa/diambil dari buku Peri Hidup Nabi & Para Sahabat, Karya Saad Saefullah, penerbit Pustaka SPU]

Sumber: http://www.islampos.com/dari-mana-kaudapatkan-uangnya-281/

Jumat, 11 November 2011

Sejarah Para Khalifah: Abdul Hamid I, Lemah Namun Berhasil

REPUBLIKA.CO.ID, Abdul Hamid I—lahir 20 Maret 1725, wafat 7 April 1789—adalah Sultan Turki Utsmani sejak 1774 hingga kematiannya. Abdul Hamid adalah seorang penguasa yang lemah.

Ketika perang diumumkan terhadap kekaisaran Rusia dan kurang dari setahun naiknya ke singgasana, pasukannya kalah dalam pertempuran Kozluja yang membuat Turki Utsmani terpaksa menandatangani Perjanjian Kucuk Kaynarca pada 21 Juli 1774. Perjanjian damai itu rampung di kota Winarajah di Bulgaria pada 1187 H/1774 M.

Di antara poin-poin penting yang terdapat dalam perjanjian tersebut adalah dihapuskannya permusuhan antara pemerintahan Utsmani dan Rusia, serta dijaganya kesepakatan dengan penuh komitmen, jangan sampai ada perubahan. Juga hendaknya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh kedua pihak bisa dimaafkan. Selain itu, para pengkhianat dan desertir tidak akan diberikan perlindungan politik.

Penguasa Rusia, Catherina, menulis surat pada komandan perangnya yang bernama Butamkin untuk tidak menunggu datangnya pasukan Utsmani. Mereka diperintahkan sesegera mungkin bergerak menuju kota Bandar dan Awazai. Mereka pun berhasil memasuki wilayah Awazai. Di sanalah Austria mengumumkan perang pada pemerintahan Utsmani.

Meskipun banyak kelemahan, Sultan Hamid I dipandang sebagai sultan paling berhasil di negaranya karena ia membentuk pasukan pemadam kebakaran, menjalankan kebijakan reformasi, perbaikan militer, meningkatkan standar pendidikan dan lainnya.

Abdul Hamid I kemudian berhasil meredam sejumlah pemberontakan di sejumlah provinsi. Namun ia kehilangan Krimea setelah berperang melawan Rusia, dua tahun sebelum kematiannya.

Yousef II, Kaisar Austria, berusaha menduduki Belgrade. Namun dia harus kecewa dengan menarik diri dari kota itu Timsawar. Sedangkan pasukan Utsmani mengejar dan namun dikalahkan dengan mengenaskan.

Dalam kondisi demikian, Sultan Hamid I meninggal dunia. Gairah dan semangat tentara Utsmani ikut melorot dengan meninggalnya sultan. Keputusasaan menggumpal di dada mereka. Sementara musuh-musuh mempergunakan kesempatan ini dengan segala cara untuk melemahkan pemerintahan Utsmani.

Mereka berhasil menang atas Daulah Utsmaniyah pada 31 Juli dan 22 September 1789. Rusia berhasil menguasai kota Bandar yang kokoh. Mereka juga berhasil menduduki sebagian besar Falach, Baghdan, dan Pasarayana. Sementara itu orang-orang Austria berhasil memasuki Belgrade dan Serbia, yang kemudian dikembalikan sesuai dengan Zastaway.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/07/lny292-sejarah-para-khalifah-abdul-hamid-i-lemah-namun-berhasil

Sejarah Para Khalifah: Sultan Salim III, Semangat Jihad yang Menggebu

REPUBLIKA.CO.ID, Salim III—lahir 24 Desember 1761, wafat 28 Juli 1808—adalah Sultan Turki Utsmani yang menggantikan pamannya, Abdul Hamid I. Ia memerintah antara 7 April 1789 hingga 29 Mei 1807. Selain mencintai musik, Sultan Salim III juga seorang komponis dan dramawan yang mumpuni.

Dia berkuasa setelah pamannya, Abdul Hamid I, meninggal dunia pada 1203 H. Sejak itu fase baru peperangan antara Daulah Utsmaniyah dengan musuh-musuhnya dimulai. Sultan Salim III memulai lagi ruh dan semangat perjuangan dalam jiwa pasukannya. Semangat yang dia bangun itu diambil dari perjalanan sejarah pemerintahan Utsmani dan aksi-aksi patriotik yang telah dilakukan para pahlawannya.

Ketika ditahbiskan sebagai sultan, ia berdiri di depan para pembesar pemerintahan dan mengucapkan pidato yang penuh dengan semangat patriotik dan semangat juang tinggi. Dalam pidatonya itu, dia mengisyaratkan pada apa yang telah dicapai pasukan Utsmani dalam menorehkan kemenangan terhadap musuh-musuhnya.

Dia juga membicarakan sebab-sebab kekalahan yang banyak diderita pasukan Utsmani saat menghadapi musuh-musuhnya. "Salah satu sebab kekalahan ini adalah karena mereka jauh dari agama dan tidak lagi mengikuti Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW," ujarnya.

Dia menyerukan kepada yang hadir agar kembali menumbuhkan semangat berkorban dan jihad dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Tidak lupa pula dia mengingatkan, hendaknya mereka selalu bersandar kepada Allah SWT dan taat pada pimpinan, serta berjuang melawan musuh-musuh Islam yang saat itu menduduki tanah-tanah kaum Muslimin.

Cita-cita ini membuat Sultan Salim III menolak semua usaha damai yang dilakukan para duta besar Spanyol, Prancis dan Rusia. Dia meminta Perdana Menterinya, Yusuf Pasya, untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka menghadapi musuh-musuh Kesultanan Utsmani.

Sultan sepenuhnya sadar, bahwa krisis dan bencana yang menimpa rakyatnya berupa kekalahan yang terus-menerus diderita pemerintahannya. Untuk meringankan kemarahan dan kebencian rakyatnya, Sultan Salim III menolak semua usaha damai dan dia memutuskan untuk memimpin sendiri pasukannya yang sedang berangkat menuju Danube.

Sultan Salim III ingin sekali dapat mengembalikan Krimea dan menorehkan kemenangan atas musuh-musuhnya. Dalam benaknya, tekad bulat di atas hanya bisa direalisasikan cengan cara membangun sebuah kekuatan militer. Dia memerintahkan perdana menterinya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam usaha mengembalikan kemampuan pasukan dan mengawasi semua upaya dalam usaha melakukan perbaikan dan pengiriman pasukan ke medan perang.

Ekspansi militer kaum Salibis ke wilayah-wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmani pada paruh akhir 1789 H, merupakan ekspansi militer terdahsyat yang pernah disaksikan kawasan perbatasan antara kedua belah pihak. Karena itu, masa-masa pasca ekspansi militer tersebut diliputi dua karakteristik khusus.

Pertama, intensifnya lobi-lobi diplomasi, gerakan keagamaan, dan politik di negara-negara Eropa yang mengingatkan bahaya akibat perang. Di mana hampir seluruh Eropa termasuk Rusia merindukan kedamaian. Oleh sebab itu, negara-negara Eropa secara intensif menyerukan kedua belah pihak (Austria-Rusia vs Turki Utsmani) untuk segera menghentikan perang.

Kedua, pada masa itu terjadi perkembangan dan persiapa militer baru disebabkan kekalahan pasukan Utsmani yang berturut-turut sebelum dan sesudah Perang Yuza yang telah menimbulkan gelombang kemarahan dan kebencian rakyat. Bahkan terdengar suara-suara agar dilakukan reformasi dan pemecatan perdana menteri dari jabatannya.

Peristiwa terus berlangsung, dan kekalahan terus menimpa, pemerintahan Utsmani kian melemah. Maka bersamaan dengan munculnya Revolusi Prancis, negara-negara Eropa memandang perlu melakukan perjanjian dengan pemerintahan Utsmani dengan tujuan untuk menyatukan negara-negara Eropa dalam menghadapi gerakan Napoleon Bonaparte yang terus meluaskan aksinya, serta untuk membendung kerakusan pemerintahan Prancis telah menguasai wilayah-wilayah Utsmani. Ini merupakan fase pertama dari langkah mereka. Negara-negara Eropa berhasil menjadi mediator dalam perjanjian itu. Maka ditandatanganilah Perjanjian Zastaway yang masyhur pada 22 Jumadil Awwal 1205 H/4 Agustus 1791 M.

Walau demikian, Sultan Salim III sangat ingin menghidupkan kembali kewajiban jihad sebagaimana yang ada pada masa-masa pemerintahan leluhurnya. Beberapa sejarawan menduga hal inilah yang menjadi sebab konspirasi yang menyebabkan dia meninggal pada Jumadil Awwal 1223 H/28 Juni 1808 M.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/08/lnzzap-sejarah-para-khalifah-sultan-salim-iii-semangat-jihad-yang-menggebu

Sejarah Para Khalifah: Mustafa IV, Sultan yang Dihukum Mati

REPUBLIKA.CO.ID, Mustafa IV—lahir 8 September 1779, wafat 15 Nopember 1808—adalah Sultan Turki Utsmani dari 1807 hingga 1808. Ia adalah putra Sultan Abdul Hamid I.


Selama masa pemerintahan Sultan Salim III (1789-1807), Mustafa IV dianggap menguntungkan. Namun saat pemberontakan merebak di masa Salim III, Mustafa IV membangkang dan mendukung Yeniceri yang menjatuhkan sultan tua, dan membuatnya sebagai penguasai baru. Namun simpati buat Salim III terus berlangsung.


Pada 1808 sebuah pasukan di bawah Mustafa Bayrakdar berangkat ke Istanbul untuk mengembalikan Salim III ke tahta. Sebagai tanggapannya, Mustafa IV memerintahkan untuk mengeksekusi Salim III sebagaimana saudaranya yang lain, Mahmud.


Ini akan membuat Musthfa IV pria satu-satunya yang tersisa di garis warisan dan ia berharap dapat memadamkan pemberontakan dengan menyingkirkan calon resmi tahta lainnya.


Salim III dibunuh, namun Mustafa IV dijatuhkan lagi dan digantikan oleh Mahmud II, yang telah menghindari eksekusi dengan bersembunyi. Mustafa IV gagal mematahkan blokade Rusia atas Dardanalle dan kemudian dihukum mati di tahun itu.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/10/lo3nuq-sejarah-para-khalifah-mustafa-iv-sultan-yang-dihukum-mati

Sejarah Para Khalifah: Mahmud II, Sang Peniru Barat

REPUBLIKA.CO.ID, Sultan Mahmud II (1784-1839) menjabat sebagai Sultan Turki Utsmani antara 1808-1839. Ia adalah sultan yang mendorong Turki meniru Barat.

Sultan Mahmud II memangku kekuasaan tatkala berumur 24 tahun. Ia banyak mengambil faidah dari kebersamaannya dengan Sultan Salim III, yang banyak memberikan informasi padanya tentang rencana-rencana perubahan. Hanya saja sulatan yang baru ini sejak awal memerintah harus tunduk pada kemauan Pasukan Inkisyariyah.

Maka dia pun memerintahkan untuk membatalkan semua rencana reformasi, dengan harapan dapat memuaskan mereka, hingga suatu saat tiba waktunya untuk merealisasikan dan menerapkan semua rencana perubahan itu.

Mahmud II adalah orang yang menggunakan mantel kesabaran dan menunggu saat yang paling tepat untuk bisa keluar dari kungkungan kelompok Inkisyariyun yang selalu mengancam eksistensi Daulah Utsmaniyah.

Namun kesempatan itu tidak berpihak padanya sebelum melewati masa-masa panjang. Khususnya, karena pada zamannya dipenuhi dengan perkembangan peristiwa yang sangat penting yang telah menguras sebagian besar energi dan semua potensinya.

Tabiat Pasukan Inkisyariyah rusak dan akhlak mereka berubah dengan sangat drastis. Kepentingan mereka yang berubah-ubah menjadi sumber bencana bagi pemerintahan Utsmani dan rakyatnya. Mereka sering melakukan intervensi dalam masalah-masalah kenegaraan.

Mereka tenggelam dalam kenikmatan dunia dan semua yang haram. Sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mau berangkat berjihad. Mereka meminta hadiah-hadiah dari pemerintah, dan cenderung melakukan perbuatan anarkis dan perampokan saat menyerang sebuah negeri.

Kaum Inkisyariyun meninggalkan tugas dan kewajiban mereka dan menjadi manusia-manusia pemabuk. Maka kekalahan terus-menerus menimpa mereka karena meninggalkan syariat Islam , akidah serta prinsip-prinsip agama. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka memecat dan membunuh beberapa sultan seperti Sultan Utsman II.

Mereka pula yang mendudukkan Sutlan Murad sehingga dapat dikendalikan. Mereka juga membunuh Sultan Ibrahim I dan Sultan Muhammad IV sehingga orang-orang Eropa dapat menguasai sebagian wilayah Kesultanan Utsmani.

Pada masa Sultan Salim II, kelompok ini melakukan pemberontakan sehingga membuka kesempatan pada pasukan musuh untuk memasuki wilayah Utsmani, kemudian menguasainya. Mereka juga mencopot Sultan Mustafa II, Ahmad III, Mustafa IV hingga akhirnya Sultan Mahmud II menjadi penguasa pada 1241 H dan berhasil keluar dari cengkeraman mereka.

Pada 8 Dzulqa'dah 1241 H, sebagian perwira Inkisyariyah mulai menggerakkan pasukan saat mereka sedang melakukan latihan, lalu melakukan pembangkangan. Sultan Mahmud II mengumpulkan para ulama dan memberitahu niat kaum pemberontak tersebut. Para ulama mendorongnya untuk menghancurkan mereka.

Sultan Mahmud II berhasil memberantas pemberontakan Pasukan Inkisyariyah dan menghancurkan mereka. Terhadap mereka yang melarikan diri, Sultan memerintahkan agar diburu, dihukum pancung atau diasingkan.

Selanjutnya Sultan Mahmu II bebas mengembangkan militernya dengan mengikuti pola militer Barat. Sorban diganti dengan topi Romawi, demikian pula dengan uniform tentara. Dia juga menciptakan lambang kebesaran militer. Dengan demikian dialah orang pertama yang membuat lambang kebesaran dari kalangan Sultan Utsmani.

Penggantian sorban dengan topi Romawi yang dilakukan Sultan Mahmud II dan kewajiban memakai pakaian Eropa bagi militer, menunjukkan satu kekalahan psikologis yang mendalam.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/11/lo5hnm-sejarah-para-khalifah-mahmud-ii-sang-peniru-barat

Kamis, 10 November 2011

Sejarah Para Khalifah: Abdul Majid I, Mengawali Gerakan Pro-Barat

REPUBLIKA.CO.ID, Abdul Majid I (1823-1861) adalah sultan Turki Utsmani yang menggantikan ayahnya, Mahmud II, pada 2 Juli 1839. Masa pemerintahannya ditandai dengan bangkitnya nasionalisme di negara itu dan menempa persekutuan dengan kekuatan utama Eropa.

Sultan Abdul Majid I adalah ayah dari empat orang sultan; Murad V, Abdul Hamid II, Muhammad Risyad V, dan Muhammad Wahidin (sultan ke-2 sebelum pembubaran Turki Utsmani). Ia menitahkan pemugaran Hagia Sophia yang diawasi oleh arsitek Swiss, Gaspas Fossati.

Sultan Abdul Majid I adalah sosok yang lemah secara fisik, namun sangat cerdik otaknya. Ia dikenal sebagai sosok yang realistis dan penuh kasih sayang. Dia termasuk salah seorag Sultan Utsmani yang memiliki kemampuan sangat mumpuni. Ia menyukai kedamaian, memasukkan program-program baru dalam pemerintahannya, dan mempraktikkannya pada saat itu juga.

Sultan juga memasukkan program-program baru dalam sistem kemiliteran Utsmani. Pada masa pemerintahannya, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, perdagangan meluas, dan banyak bangunan-bangunan mewah didirikan. Pada masanya pula telah dikenalkan kabel telepon dan rel kereta api.

Dia memegang kendali kekuasaan setelah ayahnya, Sultan Mahmud II, yang meninggal dunia pada 1839 M. Waktu itu dia baru berumur 16 tahun. Usianya yang sangat muda ini dijadikan peluang oleh sebagian menterinya yang "ter-barat-kan" untuk menyempurnakan apa yang telah dilakukan ayahnya dalam hal perbaikan-perbaikan yang berkiblat pada Barat serta memodernkan segala sesuatu dengan standar Barat.

Sultan Abdul Majid I merupakan Sultan Utsmani pertama yang melakukan westernisasi pemerintahan secara resmi. Dialah yang pertama kali mengambil langkah gerakan ini dan mengeluarkan perintah resmi tentang adanya organisasi pemerintahan pada 1854 dan 1856 M.

Dengan adanya perintah resmi ini, maka dimulailah dalam pemerintahan Utsmani apa yang disebut dengan masa reorganisasi. Sebuah istilah yang sebenarnya adalah reorganisasi masalah-masalah kenegaraan di dalam pemerintahan Utsmani dengan metode Barat. Dengan dua perintah resmi ini, maka sempurnalah penyingkiran aturan-aturan syariah Islam, dan sekaligus menandai pembuatan undang-undang positif dan pendirian lembaga-lembaga.

Sultan Abdul Majid I sangat dipengaruhi oleh menterinya, Rasyid Pasya, yang merupakan pengagum Barat dan menjadikan filsafat Freemasonry sebagai jalan hidupnya. Rasyid Pasya adalah orang yang mempersiapkan generasi pelanjut yang duduk menjadi menteri dan orang-orang penting dalam pemerintahan. Berkat perannya, mereka telah mengambil andil sangat besar dalam menggulirkan roda westernisasi yang telah ia rintis.

Tatkala kaum Muslimin melihat bahwa pemerintahan Utsmani menyamakan antara mereka dengan orang-orang Kristen dan Yahudi dan telah mengganti syariah Islam dengan undang-undang Kristen. Dan mereka merasa bahwa pemerintahan Rasyid Pasya lebih berpihak pada masyarakat Kristen, dan sangat peduli agar mereka tidak mendapat ancaman apa-apa.

Timbullah ketidaksukaan yang kuat di kalangan rakyat. Melihat reaksi rakyat Muslim, tidak ada jalan lain bagi sultan dan para pejabat pemerintahannya kecuali harus menurunkan dan menyingkirkan Rasyid Pasya, akibat adanya kebencian dan tekanan rakyat yang demikian kuat. Ini terpaksa dilakukan karena sultan dan orang-orangnya sangat takut akan adanya pemberontakan dan pembangkangan kaum Muslimin.

Hanya saja pencopotan Rasyid Pasya tidak berhasil menghentikan gelombang gerakan westernisasi dan semakin banyaknya aturan hukum yang diimpor dari Barat setelah dilapangkan.

Kondisi pemerintahan Utsmani makin lama makin buruk dan mundur. Inilah yang membuat para pejabat pemerintah berpikir keras, tentang hakikat perubahan yang harus dilakukan. Ternyata tidak didapatkan cara lain selain menggunakan pembaharuan dengan mengikuti gaya Eropa dengan cara westernisasi yang telah dimulai.

Wabah westernisasi ini menyebar ganas dari pemerintahan Utsmani ke berbagai wilayah lainnya. Di Tunisia, Muhammad Bay mengeluarkan apa yang disebut "dengan kesepakatan" pada 1857 M.

Mesir juga mengambil langkah yang sama. Dengan adanya hukum politik di Istanbul, Tunisia, dan Mesir, maka usaha modernisasi yang dulunya menjadi keinginan bangsa Eropa, mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok elit penguasa dan mendapat restu sultan untuk menerapkan proses westernisasi dalam masyarakat Muslim.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/12/lo7drg-sejarah-para-khalifah-abdul-majid-i-mengawali-gerakan-probarat

Sejarah Para Khalifah: Abdul Azis, Korban Konspirasi Eropa

REPUBLIKA.CO.ID, Abdul Azis adalah Sultan Turki Utsmani yang memerintah antara 1861-1876. Ia lahir 1830, menduduki tahta 1861, dan dicopot dari kedudukan 1876. Empat hari setelah pencopotannya, ia meninggal dunia. Banyak sejarawan yakin bahwa ia mati syahid setelah anggota Turki Muda mengatur persekongkolan untuk membunuhnya dan mengumumkan kematiannya.

Abdul Azis naik tahta menggantikan saudaranya, Abdul Majid I, pada akhir 1277 H. Pada masa pemerintahannya, meledak revolusi di kepulauan Kreta. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan 1283 H/1863 M. Setelah itu, Terusan Suez berhasil ditaklukkan pada 1285 H/1869 M.

Pada awal masa pemerintahannya, muncul sebuah majalah hukum dan keadilan serta undang-undang perdagangan dan bisnis lautan. Dia melakukan kunjungan ke Eropa dan berpikir untuk mengambil manfaat dari adanya konflik yang terjadi di antara negara-negara Eropa. Namun ternyata yang didapatkannya, negara-negara Eropa itu sepakat menyatakan permusuhan terhadap pemerintahan Utsmani karena ia adalah negara Islam.

Sultan Abdul Azis menyatakan keinginan kuatnya untuk melanjutkan jalan yang telah ditempuh oleh ayahnya, Mahmud II, dan saudaranya, Abdul Majid I. Dia tetap memakai orang-orang yang mendapat tugas untuk melanjutkan program reformasi di masa sebelumnya. Di antara reformasi paling penting yang dia lakukan adalah perubahan di bidang administrasi, yang ditandai dengan dikeluarkannya undang-undang keprovinsian pada 1281 M/1864 M.

Disamping itu, ia juga membentuk Mahkamah Tinggi Kehakiman. Pada 1285 H/1868 M, ia membentuk majelis negara serupa dengan yang ada di Prancis, yang kemudian disebut dengan Syuwari Daulah atau Majelis Syura Negara. Di antara tugas pentingnya adalah membicarakan anggaran negara.

Sultan Abdul Azis menolak undang-undang Barat secara keseluruhan. Demikian pula dengan tradisi-tradisi Barat yang sangat jauh dari tradisi Islam. Ia juga berhasil melakukan perbaikan dalam pemerintahan Utsmani dalam skala besar, khususnya di bidang militer.

Dia berhasil membangun militer yang kuat, mengganti persenjataan yang lama dengan yang baru. Ia juga mengimpor senjata yang dibutuhkan dari pabrik yang paling baik di Eropa. Selain itu, Abdul Azis juga berhasil melakukan reorganisasi militer dengan sistem modern dan membentuk kelompok-kelompok militer di setiap wilayah.

Ia juga berhasil mempersenjatai benteng-benteng dengan senjata berat dan meriam-meriam terbaru sehingga menjadikan meriam-meriam Utsmani contoh dalam kemajuan. Pada saat yang sama, Sultan Abdul Azis melakukan perbaikan dalam bidang kelautan dan menempatkan para ahli dan pakar Utsmani menggantikan pakar asing, walaupun mendapat tentangan dari mereka.

Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Utsmani menjadi negara maritim paling utama di dunia. Angkatan Daratnya meningkat hingga 700.000 pasukan dengan sistem dan persenjataan terbaru pada saat itu. Ia juga membangun sejumlah sekolah penting, seperti sekolah pertambangan, sekolah pertanahan dan sekolah tinggi militer.

Sultan juga melakukan restrukturisasi ekonomi dan mengatur belanja negara dengan baik dan transparan. Dengan demikian, maka lunaslah hutang pemerintah Utsmani, dan menjadikan keuangan negara dalam keadaan stabil. Negara-negara Eropa tercengang melihat apa yang dilakukan oleh sultan dalam waktu yang sangat singkat ini. Mereka pun segera menebar kerikil-kerikil tajam untuk menghalangi langkah-langkah dan rencananya.

Akar-akar konspirasi pembunuhan terhadap Sultan Abdul Azis dilakukan cara yang seksama dan sangat terencana oleh konsulat dan diplomat-diplomat Eropa. Mereka berusaha merealisasikannya melalui antek-antek yang telah kenyang menyerap pemikiran Eropa.

Medhat Pasya, salah seorang pejabat Utsmani, secara terang-terangan mengaku saat diadili bahwa dirinya teribat dalam konspirasi pencopotan Sultan Abdul Azis dari kedudukannya. Peristiwa ini sangat terkenal dalam sejarah dan dicatat dalam sejumlah dokumen.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/13/lo97ap-sejarah-para-khalifah-abdul-azis-korban-konspirasi-eropa

Sejarah Para Khalifah: Sultan Murad V, Memerintah Kurang dari 100 Hari

REPUBLIKA.CO.ID, Murad V adalah Sultan Turki Utsmani yang memerintah pada 1876. Ia memegang tampuk kekuasaan hanya 93 hari dan meninggal pada 1904. Ia amat menyukai musik dan menguasai bahasa Prancis.

Sultan Murad V adalah putra Sultan Abdul Majid. Ia lahir pada 25 Rajab 1256 H/1804 M. Dia naik tahta sebagai sultan pada 8 Jumadil Awal 1293 H.

Sultan Murad V dikenal cerdas dan memiliki pengetahuan luas tentang Turki dan Arab, sebagaimana ia juga menampakkan perhatian yang sangat tinggi terhadap sastra, ilmu pengetahuan secara umum, dan masalah-masalah yang menyangkut  Eropa.

Dia pernah ke Eropa dan bertemu dengan beberapa orang Eropa. Namun sang sultan terjebak dalam jaringan Freemasonry. Dia memiliki hubungan khusus dengan Namiq Kamil, salah seorang anggota gerakan ini dan beberapa orang lainnya. Sultan Murad V dikenal sebagai orang yang cenderung pada undang-undang positif liberal dan sekuler.

Gerakan Freemasonry yang mendorongnya naik ke puncak kekuasaan. Namun dia mengalami kerusakan otak, setelah dikejutkan oleh rasa takut berlebihan tatkala bangun di tengah malam saat dicopotnya Sultan Abdul Azis. Kesehatannya terus merosot pada saat Medhat Pasya sedang gencar-gencarnya berusaha untuk mengumumkan undang-undang positif, sebagai pengganti syariah Islam.

Ketika sakit inilah, Medhat Pasya dengan teliti mempelajari hukum dan undang-undang Barat dan terus melakukan kontak dengan para pendukungnya. Akhirnya, Medhat Pasya berhasil mencopot Sultan Murad V dari jabatannya karena dianggap gila.

Setelah dicopot dari jabatannya, Murad V sembuh dari penyakitnya. Dia menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Istana Jaraghan hingga meninggal saat usianya mendekati 64 tahun.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/15/lob5fs-sejarah-para-khalifah-sultan-murad-v-memerintah-kurang-dari-100-hari

Sejarah Para Khalifah: Abdul Hamid II, Sang Penentang Demokrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Sultan Abdul Hamid II (1842-1918) adalah Sultan atau Khalifah Daulah Utsmaniyah yang menggantikan saudaranya, Sultan Murad V, pada 31 Agustus 1876. Sultan Abdul Hamid II lahir pada Rabu, 16 Sya'ban 1258 H/21 September 1842 M.

Ibunya meninggal dunia saat Abdul Hamid II baru berusia 10 tahun. Dia diasuh oleh istri kedua bapaknya, seorang wnita yang mandul. Ibu tirinya itu mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan berusaha untuk menjadi ibu kandungnya.

Sultan Abdul Hamid II mencurahkan segenap kasih sayangnya, sebagaimana ida juga mewasiatkan bahwa harta yang dia tinggalkan hendaknya diberikan pada ibu tirinya. Sultan sangat terpengaruh dengan pendidikan ibu tirinya ini dan sangat kagum dengan ketenangan, sikap, dan suaranya yang selalu lembut. Semua sifat-sifat ini terefleksikan dalam kehidupannya sehari-hari sepanjang hayatnya..

Sultan Abdul Hamid II mendapat pendidikan regular di istana, di bawah bimbingan orang-orang yang sangat terkenal di zamannya, baik secara ilmu maupun akhlak. Dia belajar bahasa Arab dan Persia, sejarah, sastra dan ilmu-ilmu tasawuf. Ia juga piawai menulis syair dalam bahasa Turki.

Abdul Hamid II belajar secara serius bagaimana menggunakan senjata. Dia sangat jago memainkan pedang, juga menembak dengan pistol. Ia tak pernah melewatkan hari-harinya tanpa berolahraga. Dia demikian peduli dengan politik internasional, selalu mengikuti berita tentang posisi negerinya dari kabar-kabar tersebut dan memfokuskan perhatian secara teliti dan seksama.

Pada awal masa pemerintahannya, Sultan harus berhadapan dengan kediktatoran para menteri dan kekerasan politik pembaratan yang dipimpin oleh kelompok Utsmani Baru, yang terdiri dari kalangan terpelajar yang sangat terpengaruh Barat. Mereka orang-orang  yang berhasil dibentuk oleh gerakan Freemasonry untuk menjadi pasukan dalam rangka merealisasikan target yang ingin dicapai.

Sultan Abdul Hamid II membentuk tim investigasi untuk mengungkap kasus pembunuhan Sultan Abdul Azis yang melibatkan Medhat Pasya, sang perdana menteri. Setelah itu, para terdakwa diajukan ke pengadilan mendapat vonis pengadilan.

Medhat Pasya divonis dengan hukuman pancung. Namun Sultan Abdul Hamid II memberikan keringanan agar dia tidak dipancung dan hanya dimasukkan ke dalam penjara. Setelah itu, dia diasingkan ke Hijaz dan ditempatkan di penjara militer. Ada juga yang mengatakan Medhat Pasya dibuang ke Eropa, ada pula yang mengatakan ia dibuang ke Thaif, selatan Makkah.

Sultan Abdul Hamid II adalah orang yang menentang sistem demokrasi dan hukum buatan manusia yang dikenal dengan istilah "Al-Masyruthiyah". Ia menolak sistem ini karena dianggap sebagai sistem dari Barat.

Masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II adalah masa yang penuh gejolak dan krisis multidimensi. Disamping itu, ada konspirasi internasional, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Oleh sebab itu, dia segera melakukan perbaikan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam untuk membendung intervensi Eropa. Dia sangat bersemangat menerapkan syariat Islam.

Ia juga berhasil membentuk badan intelijen yang demikian kuat untuk membentingi negaranya dari dalam dan untuk mengumpulkan berita-berita dari musuh-musuhnya dari luar. Dia berupaya membangun Pan-Islamisme dan telah berhasil merealisasikan hasil yang demikian besar. Eropa terguncang dengan pemikiran strategis yang dibangun oleh Sultan Abdul Hamid.

Sultan Abdul Hamid II juga mengkampanyekan kesatuan umat ke berbagai wilayah seperti selatan Rusia, India, Pakistan, dan Afrika. Ia mulai mengundang banyak sarjana dari Afrika, India dan Nusantara (Indonesia) ke Turki sebagai bagian dari proyek pembangunan institusi pendidikan dan pembangunan masjid-masjid di seluruh wilayah Daulah Utsmaniyah.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/15/locxto-sejarah-para-khalifah-abdul-hamid-ii-sang-penentang-demokrasi

Sejarah Para Khalifah: Muhammad Risyad, Menuju Keruntuhan Daulah

REPUBLIKA.CO.ID, Sultan Muhammad Risyad adalah Khalifah Turki Utsmani yang memerintah antara 1909-1918. Ia naik tahta menggantikan saudaranya, Abdul Hamid II yang lengser dalam usia 65 tahun.

Ia belajar dua wawasan, Timur dan Barat. Ia menjadi sultan pertama yang memerintah di bawah Perjanjian Al-Masyruthiyah, yakni menentukan persyaratan pada penguasa tentang batas waktu kekuasaannya dan membiarkan jalannya pemerintahan berada pada Komite Persatuan dan Kemajuan.

Skenario global yang berusaha mengakhiri Pemerintahan Utsmani hingga ke akar-akarnya menuntut untuk dilahirkannya seorang pahlawan boneka yang dapat dijadikan partner oleh pasukan sekutu dan menggantungkan harapan umat Islam yang kini dilanda putus asa. Proyek pembuatan boneka ini jauh lebih baik dari seratus proyek lain untuk mencabik-cabik Turki dan penghancuran Islam.

Pembuatan pahlawan boneka ini berhasil dilakukan oleh para intelijen Inggris dengan kesuksesan luar biasa. Maka muncullah Mustafa Kemal Ataturk sebagai seseorang yang menyerupai penyelamat pemerintah, baik dari pasukan sekutu dan Yunani yang sedang menguasai Izmir yang dibantu oleh Inggris pada 1338 H.

Mereka memasuki wilayah itu dengan membawa dendam Perang Salib di Anatolia. Mustafa Kemal mendengungkan spirit jihad di Turki dan mengangkat Al-Qur'an dan berhasil mengusir orang-orang Yunani serta membuat orang-orang Inggris menarik diri tanpa terjadi bentrokan senjata apa pun.

Bahkan tanpa mengalami banyak kesulitan, ia berhasil menguasai beberapa tempat strategis. Ataturk pun mulai muncul ke permukaan secara pelan-pelan. Sementara itu, dunia Islam menyambutnya dengan penuh antusias dan memberinya gelar "ghazi" (panglima perang gagah tanpa tanding). Para penyair memujinya dan para khatib menyambutnya dengah hangat.

Ahmad Syauqi, misalnya, dalam sebait syairnya, menyajarkan Mustafa Kemal Ataturk dengan Khalid bin Walid, panglima besar Islam yang terkenal itu. "Allahu Akbar, betapa banyak penaklukan yang demikian mengagumkan Wahai Khalid Turki.
Perbaharuilah kepahlawanan Khalid Arab!" ujarnya.

Syauqi juga menyamakan Ataturk dengan Shalahuddin Al-Ayyubi. Ia berkata, "Kau tempuh perjalanan para budiman di sebuah zaman, di mana perang tak lagi sesuai hukum dan kesopanan."

Musuh Islam sedemikian canggih sehingga dapat membalikkan fakta sedemikian rupa. Belakangan, penyair Syauqi baru menyadari kekeliruannya, dan kembali melagukan syair 'ratapannya'.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/18/loif8x-sejarah-para-khalifah-muhammad-risyad-menuju-keruntuhan-daulah

Sejarah Para Khalifah: Muhammad Wahidin, Penguasa yang Kehilangan Kuasa

REPUBLIKA.CO.ID, Muhammad Wahidin adalah Khalifah Turki Utsmani yang menjabat pada periode 1918-1922. Ia juga Khalifah Islam ke-100. Saudara Muhammad Risyad ini naik tahta akibat meninggalnya Yusuf Izuddin, sang pewaris tahta. Ia naik ke puncak kekuasaan pada 4 Juli 1918.

Perang Dunia I menyebabkan bencana bagi Khalifah Turki Utsmani. Angkatan bersenjata Inggris telah merampas Baghdad dan Yerusalem selama perang dan sebagian besar kekhalifahan akan dibagi-bagikan kepada kuasa Eropa.

Dalam Konferensi San Remo pada April 1920, Prancis telah diberi mandat atas Suriah dan Britania Raya telah diberi mandat atas Palestina dan Mesopotamia. Pada 10 Agustus 1920, perwakilan Muhammad menandatangani Perjanjian Sevres, yang mengakui mandat itu, melepaskan kendali Utsmani atas Anatolia dan Izmir, menghilangkan perluasan Turki, dan mengakui Hijaz sebagai negara merdeka.

Kelompok nasionalis Turki (yang dibekingi pihak Barat) dengan persetujuan Sultan atas pemukiman-pemukiman tadi. Sebuah pemerintahan baru, Majelis Nasional Agung Turki, dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk telah terbentuk pada April 1920, berpusat di Ankara. Pada 23 April, pemerintahan Muhammad ditiadakan dan konstitusi sementara disahkan.

Kelompok nasionalis berhasil menghilangkan kekuasaan khalifah pada 1 November 1922 dan Muhammad Wahidin meninggalkan Istanbul, menaiki kapal perang Inggris pada 17 November menuju Malta. Ia tinggal di Italia Riviera dan meninggal pada 15 Mei 1926 di San Remo, Italia. Pada 19 November 1922 sepupunya, Abdul Majid II, diangkat sebagai khalifah.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/19/lokbto-sejarah-para-khalifah-muhammad-wahidin-penguasa-yang-kehilangan-kuasa

Sejarah Para Khalifah: Abdul Majid II, Khalifah Pamungkas

REPUBLIKA.CO.ID, Abdul Majid II lahir 29 Mei 1869 dan wafat 23 Agustus 1944 adalah khalifah terakhir Turki Utsmani. Ia menjabat sejak 19 November 1922 hingga 3 Maret 1924.

Pada masa pemerintahan Abdul Majid II, posisi Mustafa Kemal Ataturk semakin mencorong dan kharismanya semkain kuat. Pada saat yang sama, nama khalifah semakin anjlok di mata rakyatnya. Semua ini akibat permainan Inggris yang tidak gampang dilacak.

Intelijen-intelijen Inggris berhasil menemukan 'impiannya' pada sosok Ataturk. Hubungan antara intelijen dan Ataturk melalui perantaraan seorang intelijen bernama Amstrong. Hubungan keduanya mulai dekat sejak Kemal Ataturk menjadi komandan perang Utsmani yang kala itu bertugas di Palestina dan Suriah.

Kemal Ataturk benar-benar berubah dari seorang perwira yang tidak berpengaruh menjadi seorang panglima militer yang memiliki berbagai kedudukan dan banyak memperoleh kemenangan. Dia pun mendapat gelar "gazhi" berkat pengaruh para intelijen Inggris.

Mustafa Kemal Ataturk adalah sosok yang doyan mabuk-mabukan dan kerap melakukan tindakan yang amoral. Hal ini tak mengherankan karena ia berasal dari Yahudi Dunamah. Dalam ensiklopedi Yahudi disebutkan, sebagian besar kalangan Yahudi Salanika menyatakan dengan tegas bahwa Kemal Ataturk berasal dari Dunamah. Ini juga merupakan keyakinan kalangan Islam yang tidak setuju dengan Kemal Ataturk. Namun pemerintahan Turki menolaknya.

Arnold Toynbee memberi catatan tentang nasab Mustafa Kemal Ataturk. "Sesungguhnya darah Yahudi mengalir deras dalam keluarga Mustafa Kemal. Sebab Salanika merupakan tempat orang-orang Yahudi berada, saat mereka ditimpa cobaan dan pengasingan. Mereka menyembunyikan akidah yang sebenarnya dengan pura-pura masuk Islam. Namun tabiat dan karakter, warna mata dan postur tubuh Kemal Ataturk tidak menunjukkan pengaruh darah Yahudi dalam dirinya," papar Toynbee.

Khalifah Abdul Majid II adalah sosok lelaki yang terdidik, sebagaimana halnya kebanyakan keturunan Bani Sulaiman. Dalam pandangan orang-orang Turki, ia dianggap memiliki hubungan yang hidup dengan khazanah dan sejarah Utsmani Islam.

Warga Istanbul sangat menghormati Sultan setiap kali hadir di masjid untuk shalat Jumat. Hal ini membuat Kemal Ataturk sangat membenci Sultan Abdul Majid II. Dia tak bisa melihat dan mendengar kecintaan manusia dan kesenangan mereka pada keluarga keturunan Utsmani. Dia pun melarang khalifah keluar untuk melaksanakan shalat dan mengurangi hak-hak istimewa sultan.

Kemal Ataturk memerintah dengan tangan besi dan bara api. Dia mendapat dukungan dari berbagai negara besar terhadap kebijakan politiknya yang kejam dan bengis. Pada 3 Maret 1924 Kemal Ataturk memanggil semua anggota pendiri organisasi untuk mengadakan pertemuan. Dia yakin bahwa tidak seorang pun dari anggota pendiri yang sebenarnya tinggal nama itu yang berani menentangnya. Dia mengusulkan pada organisasi itu proyek pembubaran khilafah yang dia sebut sebagai 'bisul sejak abad pertengahan'.

Keputusan pun diambil yang juga mencakup pembuangan khalifah pada hari berikutnya tanpa ada perdebatan. Maka obor khilafah pun padam di tangan Mustafa Kemal Ataturk.

Kemal Ataturk melaksanakan semua rancangan tertulis yang ia tandatangani dengan negara-negara Barat. Di mana kesepakatan Luzan yang terjadi pada 1340 H/1923 M telah mewajibkan Turki untuk menerima beberapa syarat  perjanjian yang dikenal dengan syarat-syarat Karzun yang empat. Karzun sendiri adalah ketua delegasi Inggris dalam muktamar Luzan.

Syarat-syarat itu ialah: 1) Pemutusan semua hal yang berhubungan dengan Islam dari Turki; 2) Penghapusan khilafah Islam untuk selama-lamanya; 3) Mengeluarkan khalifah dan para pendukung khilafah dan Islam dari negeri Turki serta mengambil harta khalifah; 4) Mengambil undang-undang sipil sebagai pengganti undang-undang Turki yang lama.

Muncullah kegundahan dan keguncangan di dunia Islam. Kemal Ataturk telah melaksanakan semua rencana itu dengan sempurna. Dia pun semakin jauh dari rambu-rambu Islam. Akhirnya Turki tenggelam dalam ganasnya westernisasi, dan berenang di lautan sekularisasi.

Pemerintah sekuler Turki memutus hubungan Turki dengan masa lalu keislaman mereka di satu sisi, dan memutus Turki dengan kaum Muslimin di seluruh negeri Arab dan Islam pada sisi yang lain.

Mustafa Kemal Ataturk meninggal pada 1356 H setelah berhasil menancapkan kuku-kuku sekularisme di Turki, walaupun tidak disukai kaum Muslimin. Ia menderita sakit selama beberapa tahun menjelang kematiannya. Tak diketahui secara pasti apa penyakit yang dideritanya.

Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
 http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/21/lonzun-sejarah-para-khalifah-abdul-majid-ii-khalifah-pamungkas

Selasa, 05 Juli 2011

Sejarah Para Khalifah: Sultan Musthafa III, Perang Panjang Melawan Rusia

Sejarah Para Khalifah: Sultan Musthafa III, Perang Panjang Melawan Rusia
Selasa, 05 Juli 2011 10:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Musthafa III lahir pada 28 Januari 1717 dan meninggal 221 Januari 1774. Ia adalah seorang penguasa yang bersemangat dan cerdik. Musthafa III mencoba memodernkan pasukan dan mesin pemerintahannya untuk membawa negerinya sederajat dengan Eropa.

Ia melindungi layanan jenderal asing untuk mengawali reformasi infanteri dan artileri militer. Sultan Musthafa III juga memerintahkan pendirian Akademi Matematika, Navigasi dan Sains.

Sayangnya, kekuasaan Utsmani telah merosot begitu dalam. Sadar akan lemahnya militer negaranya, Musthafa III menghindari perang dan tak sanggup mencegah aneksasi Krimea oleh Katarina II dari Rusia. Namun aksi ini, bersama dengan agresi Rusia lebih lanjut di Polandia, memaksa Musthafa III mendeklarasikan perang melawan Rusia sebelum kematiannya.

Musthafa III menjadi khalifah saat berumur 24 tahun, dan sangat paham tentang seluk-beluk pemerintahan. Dia mengangkat Menteri Qawjah Raghib sebagai perdana menteri karena dianggap memiliki wawasan yang luas dan pengalaman yang banyak dalam urusan negara. Raghib mampu memadamkan pemberontakan kalangan Arab Syam yang mengganggu kafilah-kafilah haji.

Dalam pandangan Sultan Musthafa III, bahaya yang sedang mengancam kesultanan adalah dengan munculnya kekuasaan Rusia baru. Tampaknya dia mengetahui rencana yang disusun Rusia yang berusaha mencabik-cabik pemerintahan Utsmani. Sebuah rencana yang diarsiteki Petrus Agung dalam sebuah wasiatnya yang terkenal.

Oleh sebab itu, Musthafa III mempersiapkan diri untuk memerangi Rusia. Ia mempersiapkan pasukan Utsmani sebaik-baiknya agar mampu menghadapi pasukan Eropa.

Sultan juga berusaha untuk memperluas wilayah dagang, baik di darat maupun di laut dan merencanakan untuk membuka wilayah Teluk sehingga bisa menyambung dengan sungai Dajlah dan Astana. Dengan demikian, sunga-sungai dapat digunakan secara alami untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi dari berbagai wilayah ke pusat pemerintahan, serta dapat memperlancar arus perdagangan.

Kesultanan Utsmani terlibat perang dengan Rusia karena pelanggaran yang dilakukan oleh Qawzaq di wilayah perbatasan. Raja Krimea berhasil menang dalam perang itu dan berhasil pula menghancurkan sejumlah desa kecil pada 1182 H/1768 M. Sedangkan Rusia berhasil menundukkan dua wilayah; Valachie dan Baghdan.

Rusia juga berusaha mendorong orang-orang Kristen Ortodoks untuk melakukan revolusi melawan pemerintahan Utsmani. Kaum Kristen Ortodoks yang berada di pulau Moroh memberontak, namun berhasil digagalkan.

Peperangan dengan Rusia terus berlanjut dalam jangka waktu yang panjang. Perang dengan Rusia ini dimulai sejak 1768 dan berakhir pada 1774. Dalam peperangan ini, pemerintahan Utsmani telah kehilangan wilayah kekuasannya yang demikian luas dan strategis. Saat itu, telah kelihatan dengan jelas kelemahan dan keterbelakangan pada kesultanan Utsmani.

Sultan Musthafa III jatuh sakit karena tenggelam dalam kesedihan saat berperang dengan Rusia. Dia wafat pada saat usia berusia 57 tahun. Musthafa III meninggal pada 1187 H/1774 M. Kedudukannya digantikan oleh saudaranya, Abdul Hamid I.



Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/05/lnud1n-sejarah-para-khalifah-sultan-musthafa-iii-perang-panjang-melawan-rusia

Minggu, 03 Juli 2011

KHALIFAH DARI MASA KE MASA

 1. Khilafah Rasyidah

Khilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka adalah:

Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)

Umar bin Khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)

‘Utsman bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)

Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) dan

Al-Hasan bin ‘Ali ra (tahun 40 H/661 M)

Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.

2. Khilafah Bani Umayyah

Khilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin selesai. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

Mu’awiyyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)

Yazid bin Mu’awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)

Mu’awiyah bin Yazid (tahun 64-65 H/683-684 M)

Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)

Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-86 H/685-705 M)

Walid bin ‘Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)

Sulaiman bin ‘Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)

Yazid bin ‘Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724M)

Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)

Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)

Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)

Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)

Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)

Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.

3. Khilfah Bani Abbasiyah

Kemudian kekhilafahan beralih ke tangan Bani ‘Abasiyah yang berpusat di Baghdad. Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu al-’Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah.

Secara rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)

Abu Ja’far al-Manshur (tahun 137-159 H/754-775 M)

Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)

Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)

Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786- 9 M)

Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)

Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)

Al-Mu’tashim Billah (tahun 618-228 H/833-842M)

Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)

Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)

Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)

Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)

Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)

Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)

Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)

Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)

Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)

Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)

Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)

Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)

Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)

Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)

Al-Tha`i’ Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)

Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)

Al-Qa`im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)

Al-Mu’tadi Bi Amrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)

Al-Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)

Al-Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)

Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)

Al-Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160 M)

Al-Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)

Al-Mustadli`u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)

Al-Naashir Lidinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)

Al-Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)

Al-Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)

Al-Musta’shim Billah (tahun 640-656 H/1242-1258 M)

Al-Mustanshir Billah II (tahun 660-661 H/1261-1262 M)

Al-Haakim Biamrillah I (tahun 661-701 H/1262-1302 M)

Al-Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)

Al-Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1343 M)

Al-Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)

Al-Mu’tadlid Billah I (753-763 H/1354-1364 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah I (th. 763-785 H/1364-1386 M)

Al-Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)

Al-Musta’shim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah II (th. 791- 8 H/1392-1409 M)

Al-Musta’in Billah (tahun 8-815 H/1409-1416 M)

Al-Mu’tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416- 1446 M)

Al-Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)

Al-Qa`im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)

Al-Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah III (th 884-893 H/1485-1494 M)

Al-Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)

Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah IV (th 914-918 H/1515-1517 M)

Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar (Mongol), sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.

4. Khilafah Bani Utsmaniyyah

Khilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi. Nama-nama mereka sebagai berikut:

Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)

Sulaiman al-Qanuni (tahun 926-974 H/1520-1566 M)

Salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)

Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)

Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)

Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)

Mushthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)

‘Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)

Mushthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)

Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)

Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)

Muhammad IV (tahun 1058-1099 H/1648-1687 M)

Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691 M)

Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)

Mushthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)

Ahmad III (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)

Mahmud I (tahun 1143-1168 H/1730-1754 M)

Utsman III (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)

Musthafa III (tahun 1171-1187 H/1757-1774 M)

Abdul Hamid I (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)

Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)

Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)

Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)

Abdul Majid I (tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M)

‘Abdul ‘Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)

Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)

‘Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)

Muhammad Risyad V (tahun 1328-1338 H/1909-1918 M)

Muhammad Wahiddin (II) (th. 1338-1340 H/1918-1922 M)

‘Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M).

Khalifah terakhir umat Islam sedunia adalah ‘Abdul Majid II. Semenjak tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama (2006-1924= 82 tahun) tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.
http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25257:urutan-khilafah-islamiyah&catid=45:tokoh-islam&Itemid=77

Sejarah Para Khalifah: Sultan Ahmad III, Dekat dengan Eropa


Sejarah Para Khalifah: Sultan Ahmad III, Dekat dengan Eropa
Sunday, 03 July 2011 14:06 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, Ahmad III—lahir 30 Desember 1673 dan wafat 1 Juli 173—adalah putra Sultan Muhammad IV. Ia naik tahta menjadi Sultan Turki Utsmani pada 1703, menggantikan saudaranya, Musthafa II.

Sultan Ahmad III membangun hubungan baik dengan Inggris, mengingat adanya ancaman Rusia. Negaranya memberikan perlindungan pada Raja Karl XII dari Swedia yang kalah perang dalam Pertempuran Poltava pada 1709 di zaman Tsar Pyotr Agung. Karena harapannya untuk berperang melawan Rusia, sultan ini mengumumkan  perang terhadap saingannya di utara. Di bawah pimpinan Wazair Agung Baltaji Mahommed, pasukan Turki Utsmani berhasil memaksa Rusia bertekuk lutut di sungai Prut pada 1711.

Perang itu diakhiri dengan perjanjian yang menuntut pengembalian Azov kepada Turki, penghancuran sejumlah benteng  yang dibangun untuk Rusia, sedangkan Tsar bejanji untuk berhenti ikut campur dalam urusan Persemakmuran Polandia-Lithuania. Harapan sultan untuk menerobos Moskow hampir saja berhasil kalau saja tidak ada serangan Safawid ke negaranya.

Serangan Persia menimbulkan kekacauan di dalam negeri, menimbulkan pemberontakan Yennisari, yang menyebabkannya turun tahta pada bulan September 1730. Ia mangkat dalam tahanan lima tahun kemudian.

Pemerintahan Ahmad III—yang berlangsung selama 27 tahun—dianggap tidak berhasil, karena wilayah Balkan terpaksa hilang ke tangan Monarki Habsburg. Walau demikian, pada masanya, panji jihad masih terus berkibar. Pasukan Utsmani mampu mengambil alih Moroh dan Azaq dan meneruskan jihad ke Eropa. Bahkan mereka mampu memukul mundur Rusia.

Tatkala Rusia melihat kelemahan Kerajaan Utsmani, mereka menuntut untuk memberika kebebasan bagi para pedagang asing dan para peziarah Baitul Maqdis untuk bisa melewati wilayah kekuasaan Utsmani, tanpa harus membayar uang bea cukai apa pun. Pemerintahan Utsmani menyetujui permintaan tersebut.

Pasukan Utsmani berhasil menduduki wilayah Armenia dan Georgia. Sementara itu, Petrus Agung berhasil menguasai wilayah Dagestan dan Laut Kharaz bagian barat karena lemahnya pemerintahan Safawid. Hampir saja pecah perang antara dua pasukan, andaikata Prancis tidak menjadi penengah antara kedua kubu sesuai dengan permintaan Rusia. Kedua pihak tetap berada di wilayah masing-masing tanpa melakukan penyerangan pada pihak lain.

Ternyata orang-orang Safawid menyerang dan membunuh pasukan Utsmani. Kendati mereka akhirnya kalah dan diharuskan menandatangani perjanjian damai pada 1140 H/1728 M. Pada masa itulah kelompok Inkisyariyah melakukan pemberontakan dan menurunkan Sultan Ahmad III. Setelah itu, mereka menobatkan keponakannya untuk menjadi sultan.

Sekelompok kecil orang-orang Utsmani menyerukan sultan untuk melakukan perubahan agar mereka bisa mencapai kemajuan, sebagaimana yang telah dicapai Eropa dari sisi kekuatan tentara dan persenjataan. Ibrahim Pasya yang saat itu menjadi Perdana Menteri di masa Sultan Ahmad III adalah orang pertama dari pejabat Utsmani yang dengan terbuka mengakui pentingnya mengenal Eropa secara lebih dekat.

Untuk itulah Sultan Ahmad III membangun komunikasi intensif dengan para duta besar Eropa. Dia juga dengan intensif mengirimkan pada duta besar Kerajaan Utsmani ke ibukota-ibukota Eropa dan secara khusus Wina dan Paris untuk pertama kalinya.

Mereka diutus bukan hanya untuk menandatangani kesepakatan damai dan diplomasi semata, namun juga meminta para duta besar itu untuk memberi pengetahuan baru pada pemerintahan Utsmani tentang diplomasi dan kekuatan Eropa. Ini juga berarti bahwa pemerintahan Utsmani mengakui satu hal yang realistis, bahwa sangat tidak mungkin bagi pemerintahan Utsmani untuk tidak mengakui perkembangan yang sedang terjadi di Eropa.

Perngaruh Eropa sangat terasa dalam pembangunan istana-istana dan pemborosan yang demikian kentara dilakukan sendiri oleh Sultan Ahmad III dalam skala besar. Dengan demikian ia telah meniru gaya dan kehidupan ala Eropa yang berhubungan dengan aksesoris dan hiasan rumah, pembangunan istana, dan taman-taman.

Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/03/lnqx2t-sejarah-para-khalifah-sultan-ahmad-iii-dekat-dengan-eropa

sumber image:http://en.wikipedia.org/wiki/File:Sultan_ahmed_III_c.jpeg

Sejarah Para Khalifah: Musthafa II, Awal Kemunduran Daulah

Sejarah Para Khalifah: Musthafa II, Awal Kemunduran Daulah
Friday, 01 July 2011 07:13 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Musthafa II (1664-1703) adalah Sultan Turki Utsmani sejak 1695 hingga 1703. Ia adalah putra Sultan Muhammad IV. Ia pun turun tahta demi kepentingan saudaranya, Ahmad III, pada 1703.

Pada masanya ini, pengembangan Islam di Eropa mengalami kemunduran disebabkan lemahnya iman dan semangat jihad. Maka menyebarlah sebab-sebab kekalahan dalam tubuh umat dan semakin keraslah serangan kaum Salibis terhadap Kesultanan Utsmani.

Pada masa pemerintahan Musthafa II, ditandatanganilah perjanjian Karlpetes di wilaya tenggara Zaghreb dekat sungai Danube pada 1110 H/1699 M, dengan pemerintahan Rusia. Sesuai dengan persyaratan yang ada dalam kesepakatan tersebut, pasukan Utsmani menarik diri dari Hungaria dan wilayah Transylvania.

Ini merupakan pertanda buruk dalam perjalanan sejarah sebagian penguasa Utsmani di mana mereka menarik diri dalam peperangan dengan cara meninggalkan kaum Muslimin di tangan musuh-musuhnya yang tidak lagi memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama.

Dengan peristiwa ini, semua negara yang sebelumnya membayar jizyah dengan tunduk dan patuh kini tidak lagi mau membayar. Sementara itu, orang-orang Salibis menghambat pemerintahan Utsmani. Mereka sepakat menghadang laju dan gerakan Kesultanan Utsmani dan mencabik-cabiknya.

Penarikan pasukan Utsmani dari tanah-tanah yang dikuasainya merupakan awal dari penarikan pasukan Utsmani dari seluruh Eropa. Sebagaimana ini juga merupakan goresan sejarah pergeseran ke masa perpecahan dan kemunduran yang demikian cepat.

Di akhir kekuasaannya, Musthafa II mencoba memperbaiki pemerintahannya, yang hanya menjadi jabatan simbolis sejak pertengahan 1600-an, ketika Muhammad IV memberikan wewenang kepada raja muda. Strategi Musthafa II adalah menciptakan dasar alternatif membuat kedudukan Timar—anggota kavaleri pasukan Utsmani—setia padanya. Namun timar-timar itu, pada tititk ini bertambah menjadi bagian usang mesin militer Turki Utsmani.

Strategi ini gagal dan Musthafa II dipecat pada tahun yang sama, 1703. Dia meninggal dunia setelah empat bulan diturunkan dari singgasananya, dalam usia 39 tahun.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/01/lnmomp-sejarah-para-khalifah-musthafa-ii-awal-kemunduran-daulah

sumber image: http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25231:sejarah-para-khalifah-musthafa-ii-awal-kemunduran-daulah&catid=45:tokoh-islam&Itemid=77

Kamis, 30 Juni 2011

Sejarah Para Khalifah: Sultan Ahmad II, Kenangan Pahit di Slankamen

Sejarah Para Khalifah: Sultan Ahmad II, Kenangan Pahit di Slankamen
Kamis, 30 Juni 2011 07:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ahmad II (1643-1695) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1691 hingga 1695. Ahmad II adalah putra Sultan Ibrahim I dan menggantikan saudaranya, Sultan Sulaiman II.

Tindakan Ahmad II yang banyak diingat adalah pengangkatan Musthafa Kuberyalali sebagai raja muda. Hanya beberapa pekan setelah kenaikannya, kesultanan Utsmani mendapat kekalahan besar dari Austira di bawah Ludwig Wilhelm dari Baden dalam pertempuran Slankamen. Pasukan Utsmani dipukul mundur ke Hungaria.

Selama empat tahun masa pemerintahannya, bencana demi bencana terus melanda negerinya. Dan pada 1695 Ahmad II meninggal, lelah akibat penyakit dan kedukaan.

Pada masa pemerintahannya inilah, Perdana Menteri Musthafa Kuberyalali, seorang yang telah banyak berjuang demi pemerintahan Utsmani meninggal dunia. Dia digantikan oleh Perdana Menteri Ji Ali Pasya Ariji, sosok yang dikenal memiliki kepribadian lemah. Saat itu, Venezia telah menduduki beberapa kepulauan Ijih.

Pemerintahan Sultan Ahmad II tidak berlangsung lama. Dia meninggal pada 1106 H/1695 M. Peperangan yang terjadi di masa pemerintahannya tak lebih dari pertempuran-pertempuran kecil. Setelah meninggal, dia digantikan oleh keponakannya, Musthafa II, putra Muhammad IV.



Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/30/lnkaof-sejarah-para-khalifah-sultan-ahmad-ii-kenangan-pahit-di-slankamen
sumber image:http://history.wisc.edu/sommerville/351/351images/AhmedII.jpg

Sejarah Para Khalifah: Sulaiman II, Berbuat Baik pada Non-Muslim

Sejarah Para Khalifah: Sulaiman II, Berbuat Baik pada Non-Muslim
Wednesday, 29 June 2011 07:56 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Sulaiman II (1642-1691) adalah Sultan Turki Utsmani dari 1687 hingga 1691. Adik Muhammad IV ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di kafes (sangkar), sejenis tahanan mewah buat pangeran di Istana Topkapi—yang dirancang untuk memastikan takkan ada pemberontakan.

Saat mendekati kenaikan tahta usai terdepaknya sang kakak pada 1687, Sulaiman II mengira para delegasi datang untuk membunuhnya. Dan satu-satunya cara memengaruhinya agar ia bisa keluar dari istananya adalah dengan menganugerahi pedang khalifah secara seremonial.

Sulit mengendalikan diri, Sulaiman II membuat pilihan cerdas dengan mengangkat Ahmad Faizil Koprulu sebagai Raja Muda. Di bawah kepemimpinan Koprulu, Turki menghambat gerak laju Austria ke Serbia dan membasmi pemberontakan di Bulgaria. Selama gerakan pengambil-alihan Hongaria Timur, Koprulu dikalahkan dan gugur di tangan Ludwig Wilhelm dari Baden di Szlankamen pada 1690. Sulaiman sendiri mangkat setahun kemudian.

Sementara itu, pemerintahan Utsmani terus merosot ketika Sulaiman II berkuasa, dan musuh-musuhnya bertambah ganas. Austria sering merampas posisi-posisi penting di beberapa kota, di antaranya Belgrade pada 1099 H. Sebagaimana Venezia juga menduduki pantai-pantai Dalmasia dan pantai-pantai wilayah timur Laut Adriatik dan beberapa tempat di Yunani. Kekalahan terus-menerus menimpa pemerintahan Utsmani.

Pada masa kekuasaan Sulaiman II, orang-orang Kristen diberi kebebasan untuk membangun gereja di Istanbul maupun di tempat-tempat di mana gereja dirobohkan sebelumnya. Hal ini dijalankan oleh Perdana Menteri Musthafa bin Muhammad Kuberyalali. Ia mengikuti jejak ayahnya dalam menjalankan kekuasaannya. Dia juga akan memberikan sanksi yang sangat keras kepada siapa saja yang melakukan tindakan tidak senonoh terhadap orang-orang Kristen saat mereka melakukan acara-acara ritual keagamaan.

Ini merupakan kesaksian dari pemeluk Kristen atas nilai-nilai toleransi Islam yang telah memberikan rasa aman pada semua manusia dalam hal agama, kehormatan, harta dan darah mereka saat berada dalam lindungan Islam. Perdana Menteri Musthafa gugur di medan perang saat sedang membela agama Allah dalam peperangan melawan orang-orang Yahudi pada 1102 H.

Sultan Sulaiman II wafat pada 26 Ramadhan 1102 H/23 Juni 1691 M, tanpa meninggalkan seorang keturunan sama sekali. Saat meninggalnya, ia hampir berusia 50 tahun. Ia memerintah selama tiga tahun delapan bulan. Sulaiman II dikebumikan di tempat pemakaman kakaknya, Sultan Sulaiman I. Setelah meninggal, ia digantikan oleh saudaranya, Sultan Ahmad II.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/29/lnj1ah-sejarah-para-khalifah-sulaiman-ii-berbuat-baik-pada-nonmuslim

sumber image:http://history.wisc.edu/sommerville/351/351images/SulaimanII.jpg

Selasa, 28 Juni 2011

Sejarah Para Khalifah: Sultan Muhammad IV, Berkuasa di Tengah Prahara

Sejarah Para Khalifah: Sultan Muhammad IV, Berkuasa di Tengah Prahara
Selasa, 28 Juni 2011 20:20 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Muhammad IV lahir pada 2 Januari 1642 dan mangkat pada 1693. Ia berkuasa sejak 1648 hingga 1687. Ia adalah putra Sultan Ibrahim I dan permaisurinya Turhan Hadice.

Muhammad IV menerima jabatan sebagai sultan saat umurnya baru lima tahun. Orang-orang Eropa melihat, kini tiba saatnya untuk memporak-porandakan Kerajaan Utsmani. Oleh sebab itu, Eropa membentuk satu aliansi yang terdiri dari Austria, Polska (Polandia), Venezia, pendeta-pendeta Malta, Paus dan Rusia, yang mereka sebut sebagai "Aliansi Kudus".

Serangan kaum Salibis pun mulai masuk pemerintahan Utsmani. Saat itu, Allah SWT berkenan menjadikan keluarga Perdana Menteri Kuberyalali sebagai golongan yang banyak membantu membendung serangan-serangan musuh dan berhasil menguatkan posisi pemerintahan Utsmani. Kuberyalali meninggal pada 1661 M, setelah berhasil mengembalikan wibawa Daulah Utsmaniyah.

Sistem yang dijalankan Kuberyalali dilanjutkan oleh anaknya, Ahmad Kuberyalali, yang menolak tegas perdamaian dengan Austria dan Venezia. Dia bergerak memimpin pasukan Utsmani untuk memerangi Austria. Pada 1074 H, dia berhasil menaklukkan sebuah benteng terbesar yang ada di Austria; benteng Nuhezel di sebelah timur Wina pada 25 Shafar 1074 H/28 September 1663 M.

Pada masa perdana menteri ini, Prancis berusaha mendekati wilayah Daulah Ustmaniyah dan memperbaharui hak-hak istimewanya, namun ia menolak tegas. Prancis pun mengancam di mana Louis XIV, Raja Prancis, mengirim duta besarnya yang dibarengi dengan sejumlah armada perang.

Namun apa yang dilakukan Raja Louis XIV sama sekali tidak mengendurkan semangat juangnya. Malah pendirian perdana menteri itu kian kokoh. "Sesungguhnya keistimewaan itu adalah pemberian dan bukan kesepakatan yang wajib dilaksanakan," ujarnya.

Akibat semangat baja ini, Prancis menarik semua tekanannya dan mempergunakan taktik dan strategi lunak, serta taat pada pemerintahan Utsmani. Sehingga pemerintah Ustmani memperbaharui perjanjian lama dan mengembalikannya untuk memberikan perlindungan pada Baitul Maqdis pada 1084 H.

Dengan wafatnya Perdana Menteri Ahmad Kuberyalali, melemahlah tatanan pemerintahan Utsmani. Austria segera menyerang Hungaria dan mengambil alih benteng Nuhezel dan kota Pets, juga kota Budha. Prancis melakukan penyerangan ke wilayah Baghdad. Pada yang sama, kapal-kapal Venezia menyerang pantai-pantai Morah dan Yunani serta menduduki Athena dan Kuranata pada 1097 H dan beberapa kota lain.

Sejarah menyebutkan, para ulama dan pemuka-pemuka pemerintahan sepakat menurunkan Sultan Muhammad IV dari singgasananya. Ia pun diturunkan pada 1099 H dan digantikan oleh saudaranya, Sulaiman II.





Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/28/lni52u-sejarah-para-khalifah-sultan-muhammad-iv-berkuasa-di-tengah-prahara

sumber image:http://history.wisc.edu/sommerville/351/351images/MehmedIV.jpg

Senin, 27 Juni 2011

Sejarah Para Khalifah: Ibrahim I, Sultan yang Mencintai Rakyat

Sejarah Para Khalifah: Ibrahim I, Sultan yang Mencintai Rakyat
Senin, 27 Juni 2011 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ibrahim I adalah Sultan Turki Utsmani dari 1640 hingga 1648. Dia menjadi sultan setelah saudaranya, Murad IV, tidak meninggalkan seorang pun anak laki-laki sebagai penerus tahta. Saat Sultan Murad IV meninggal, tidak seorang pun keturunan Ali Utsmani yang masih hidup, kecuali Ibrahim yang dipenjara selama pemerintahannya.

Tatkala saudaranya meninggal, para pembesar kerajaan segera mendatanginya ke penjara untuk memberitahukan kematian saudaranya, Sultan Murad IV. Tatkala mereka menemuinya, ia menyangka bahwa mereka datang untuk membunuhnya. Dia ketakutan dan tidak percaya dengan berita yang mereka bawa. Oleh sebab itu, ia tidak membukakan pintu penjara. Akhirnya para pembesar membongkar paksa pintu penjara dan menyatakan ucapan selamat kepadanya.

Ibrahim I masih mengira bahwa mereka sedang berusaha memperdayainya untuk mengorek isi hatinya. Maka dia pun menolak tawaran untuk berkuasa dan mengatakan lebih senang hidup sendirian di balik jeruji daripada menerima kerajaan dunia. Tatkala mereka tidak berdaya meyakinkannya, ibunya mendatanginya dengan membawa jenazah saudaranya.

Saat itulah dia duduk di tahta kesultanan dan memerintahkan agar jenazah saudaranya dikuburkan dengan prosesi yang megah. Di depan jenazah Sultan Murad IV, ada tiga kuda yang paling baik yang pernah ditungganginya saat berperang di Baghdad. Setelah itu, Ibrahim berangkat ke Masjid Jami' Abu Ayyub Al-Anshari dan di sanalah ia disandangi pedang, dan yang hadir membaiatnya sebagai khalifah.

Ketika naik ke singgasana dia berujar, "Ya Allah, perbaiki keadaan rakyat hamba selama pemerintahan hamba. Dan jadikanlah kami saling mencintai satu sama lain."

Kondisi dalam negeri relatif stabil setelah Sultan Murad IV, saudaranya, melakukan sejumlah perbaikan ke dalam, terutama terhadap militer. Maka Sultan Ibrahim memfokuskan diri pada perbaikan ekonomi dan menegakkan undang-undang perpajakan dengan asas-asas yang baru.

Pada masa pemerintahannya, Perdana Menteri Musthafa Pasya berhasil menghentikan campur tangan perempuan dalam masalah-masalah kesultanan dan berhasil menumpas para pembesar kerajaan yang melakukan perusakan.

Ada yang mengatakan, Khalifah Ibrahim I menderita penyakit mental, bahkan gila. Mungkin karena menderita kelabilan mental (neurasthenia), dan juga tertekan setelah kematian saudaranya.




Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/26/lnelgl-sejarah-para-khalifah-ibrahim-i-sultan-yang-mencintai-rakyat

sumber image:http://history.wisc.edu/sommerville/351/351images/IbrahimI.jpg