sumber: http://penulismuda.multiply.com/journal/item/92/Berubah_atau_Terhina
Senin, 05 Desember 2011
MENGAPA TIDAK BISA MENANGIS
Dituding Berdiri di Atas Tanah Kelahiran Dewa, Masjid Bersejarah Itu Dihancurkan
REPUBLIKA.CO.ID, AYODYA - Pilu. Itulah yang dirasakan Muslim India saat memperingati 19 tahun dihancurkannya masjid Babri pada 6 Desember 1992. Mereka masih belum bisa melupakan tragedi itu. "Sudah 19 tahun, Muslim India telah pindah (dari masjid itu), tapi bekas luka yang pernah ada akan tetap segar," kata Ketua Dewan Muslim India-Inggris (CIM), Sitohang Zeena, dalam sebuah pernyataan, Selasa (6/12).
Ia mengatakan kejadian itu melambangkan identitas masyarakat India telah dimanfaatkan secara politis oleh negara. Masjid Babri dihancurkan oleh kelompok fanatik Hindu, didukung oleh partai nasionalis Bharatiya Janata Party (BJP).
Zeena menyayangkan diskriminasi yang diperlihatkan pada 6 Desember 1992 masih berlanjut hingga sekarang. "Muslim masih dilecehkan, disiksa, dan ditahan atas tuduhan palsu terorisme.Hanya rekonstruksi masjid di lokasinya akan menyembuhkan luka kami,” ujar dia seperti dikutip Giligazette.
Masjid Babri dihancurkan oleh Hindu fanatik pada 6 Desember 1992. Mereka mengklaim masjid itu berdiri di lokasi tempat kelahiran dewa Hindu Rama. Masjid ini dibangun pada tahun 1528 oleh Gubernur Jenderal Kaisar Mughal Babar, Baqi Beg Tashqandi. Tak ada bukti sejarah atau arkeolog yang menandai masjid ini dibangun di atas kuil Hindu.
Ia mengatakan kejadian itu melambangkan identitas masyarakat India telah dimanfaatkan secara politis oleh negara. Masjid Babri dihancurkan oleh kelompok fanatik Hindu, didukung oleh partai nasionalis Bharatiya Janata Party (BJP).
Zeena menyayangkan diskriminasi yang diperlihatkan pada 6 Desember 1992 masih berlanjut hingga sekarang. "Muslim masih dilecehkan, disiksa, dan ditahan atas tuduhan palsu terorisme.Hanya rekonstruksi masjid di lokasinya akan menyembuhkan luka kami,” ujar dia seperti dikutip Giligazette.
Masjid Babri dihancurkan oleh Hindu fanatik pada 6 Desember 1992. Mereka mengklaim masjid itu berdiri di lokasi tempat kelahiran dewa Hindu Rama. Masjid ini dibangun pada tahun 1528 oleh Gubernur Jenderal Kaisar Mughal Babar, Baqi Beg Tashqandi. Tak ada bukti sejarah atau arkeolog yang menandai masjid ini dibangun di atas kuil Hindu.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Dwi Murdaningsih
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/12/06/lvrkw5-dituding-berdiri-di-atas-tanah-kelahiran-dewa-masjid-bersejarah-itu-dihancurkan
sumber image:http://www.eramuslim.com/berita/dunia/tokoh-muslim-india-tolak-putusan-pengadilan-terkait-kepemilikan-masjid-babri.htm
sumber image:http://www.eramuslim.com/berita/dunia/tokoh-muslim-india-tolak-putusan-pengadilan-terkait-kepemilikan-masjid-babri.htm
Turki Renovasi Masjid Dinasti Usmani di Timur Tengah
Turki akan merenovasi masjid-masjid yang dibangun oleh Dinasti Utsmani di Libya dan Gaza.
Seorang eksekutif yang bekerja di Konstruksi Nurol, Hilmi Ozkazanc, mengatakan Turki sedang merencanakan untuk memulai merenovasi Masjid Murad Agha di kota Tajura dekat ibukota Libya, Tripoli.
"Kami akan datang ke Tajura pekan depan untuk melihat apa yang harus kita lakukan untuk merenovasi masjid," kata Ozkazanc. Renovasi mungkin baru akan dikerjakan akhir tahun ini.
Ozkazanc mengunjungi Tajura bersama Duta Besar Turki untuk Libya, Ali Kemal Aydin. Selama kunjungan Aydin mengatakan, orang-orang Libya akan mendirikan sebuah negara yang akan menjadi model bagi daerah lain.
Masjid Murad Agha Masjid dibangun di Tajura sekitar 16 kilometer timur Tripoli tahun 1552 oleh Agha. Agha adalah salah satu dari tiga komandan yang bergabung dalam penaklukan propinsi Tripoli selama era Utsmani. Agha kemudian menjabat sebagai gubernur provinsi itu. Masjid ini memiliki 48 kolom marmer di atasnya yang menopang kubah.
Sementara itu, Pemerintah Kota Gaza, Palestina, telah meminta bantuan dari Turki untuk pembangunan beberapa masjid yang hancur akibat Perang Gaza 2008-2009. Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh pemerintah di Gaza, ada kebutuhan mendesak untuk membangun masjid di sana.
Hal itu disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang cepat dan juga karena sebagian besar masjid rusak selama Perang Gaza. Perang Gaza saat itu mengakibatkan lumpuhnya semua infrastruktur.
Selama perang, 34 masjid hancur, 161 lainnya rusak dan perlu direnovasi. Biaya proyek renovasi tersebut telah mendorong para pejabat di Gaza untuk mencari bantuan dari luar. Biaya rekonstruksi 34 masjid yang hancur mencapai 15 juta dolar AS. Turki akan membangun 15 masjid dengan gaya baru sebagai perbaikan selama perang Gaza yang telah berlangsung.
Gaza menjadi wilayah Utsmani pada tahun 1516 ketika Yavuz Sultan Selim membuat ekspedisi militer ke Mesir. Pada 1660 Gaza menjadi ibukota Palestina. Kekuasaan Utsmani di Gaza berakhir pada 7 November 1917 setelah pertempuran ketiga melawan Inggris dalam setahun.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Dwi Murdaningsih
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/11/12/05/lvqea1-turki-renovasi-masjid-dinasti-usmani-di-timur-tengah
Minggu, 04 Desember 2011
Mereguk Mata Air Sabar 'Urwah bin Zubair
Abu Abdillah atau Urwah bin Zubair bin Al-Awwam adalah di antara sederet tabiin yang memiliki kucuran mata air hikmah untuk generasi umat sesudah beliau. Adik dari Abdullah bin Zubair ini memberikakan pelajaran tentang nilai sebuah kesabaran.
Suatu hari cucu Abu Bakar Ash-shiddiq ini mendapat tugas untuk menemui khalifah Al-Walid bin ‘Abdil Malik di ibukota kekhalifahan, yaitu Damaskus di negeri Syam. Bersama dengan rombongan, ‘Urwah akan menempuh perjalanan dari Madinah menuju Damaskus yang saat ini menjadi negara Yordania.
Ketika melewati Wadil Qura, sebuah daerah yang belum jauh dari Madinah, telapak kaki kiri beliau terluka. Tabiin yang lahir pada tahun 23 Hijriyah ini menganggap biasa lukanya. Ternyata, luka tersebut menanah dan terus menjalar ke bagian atas kaki Urwah.
Setibanya di istana Al-Walid, luka di kaki kiri Urwah tersebut sudah mulai membusuk hingga betis. Urwah pun mendapatkan pertolongan dari Khalifah Al-Walid yang memerintahkan sejumlah dokter untuk memberikan perawatan.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, para dokter yang memeriksa salah seorang murid dari Aisyah binti Abu Bakar ini mempunyai satu kesimpulan. Kaki kiri Urwah harus diamputasi, agar luka yang membusuk tidak terus menjalar ke tubuh.
Urwah menerima keputusan tim dokter ini. Dan dimulailah operasi amputasi. Seorang dokter menyuguhkan Urwah semacam obat bius agar operasi amputasi tidak terasa sakit. Saat itu, Urwah menolak dengan halus.
Beliau mengatakan, “Aku tidak akan meminum suatu obat yang menghilangkan akalku sehingga aku tidak lagi mengenal Allah, walaupun untuk sesaat.”
Mendengar itu, para dokter pun menjadi ragu untuk melakukan amputasi. Saat itu juga, Urwah mengatakan, “Silakan kalian potong kakiku. Selama kalian melakukan operasi, aku akan shalat agar sakitnya tidak sempat kurasakan.”
Mulailah tim dokter memotong kaki Urwah dengan gergaji. Selama proses operasi itu, tabiin yang bisa mengkhatamkan Alquran selama dua hari ini tampak khusyuk dan tegar. Tidak sedikit pun suara rintihan keluar dari mulut beliau.
Melihat pengalaman yang tidak mengenakkan dari seorang cucu sahabat terkenal itu, khalifah Al-Walid menghampiri Urwah yang masih terbaring. Ia mencoba untuk menghibur.
Tapi, dengan senyum Urwah mengucapkan sebuah kalimat, “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Sebelum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, kemudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang hari-hari sakit ini. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil, dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.”
Tapi, dengan senyum Urwah mengucapkan sebuah kalimat, “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Sebelum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, kemudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku namun masa sehatku masih lebih panjang hari-hari sakit ini. Segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil, dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat.”
Mendengar itu, Khalifah Al-Walid bereaksi, “Belum pernah sekali pun aku melihat seorang tokoh yang kesabarannya seperti dia.”
Beberapa saat setelah itu, tim dokter memperlihatkan potongan kaki yang diamputasi itu kepada Urwah. Melihat potongan kakinya, beliau mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui, tidak pernah sekalipun aku melangkahkan kakiku itu ke arah kemaksiatan.”
Ujian yang Allah berikan kepada Urwah tidak sampai di situ. Malam itu juga, bersamaan dengan telah selesainya operasi pemotongan kaki, Urwah mendapat kabar bahwa salah seorang putra beliau yang bernama Muhammad -putra kesayangannya- meninggal dunia. Muhammad meninggal karena sebuah kecelakaan: ditendang oleh kuda sewaktu sedang bermain-main di dalam kandang kuda.
Dalam keheningan malam itu, Urwah berucap pada dirinya sendiri, “Segala puji hanya milik Allah, dahulu aku memiliki tujuh orang anak, kemudian Engkau ambil satu dan masih Kau sisakan enam. Walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku, hari-hari sehatku masih lebih panjang dari masa pembaringan ini. Dan walaupun Engkau telah mengambil salah seorang anakku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan enam yang lain.”
Kedekatan Urwah bin Zubair dengan doa kepada Allah memang sudah menjadi karakter dalam kehidupnya. Suatu kali, ia pernah mendapati seorang yang shalat kemudian berdoa dengan tampak tergesa-gesa .
‘Urwah memberi nasihat kepada orang itu, “Wahai saudaraku, tidakkah engkau memiliki kebutuhan kepada Rabb-mu dalam shalatmu? Adapun aku, aku selalu meminta sesuatu kepada Allah, hingga jika aku menginginkan garam sekalipun.”
Selain doa, Urwah pun begitu dekat dengan Alquran. Sudah menjadi kebiasaan putera Asma bintu Abu Bakar ini membaca seperempat Alquran di siang hari, kemudian membaca seperempatnya lagi di saat shalat malam. Kebiasaan berlama-lama dalam shalat malam ini terus dilakukan hingga operasi amputasi yang ia alami. Karena sejak itu, ia tidak lagi bisa berdiri seperti sebelumnya.
Walaupun ketika ia melakoni di antara kesibukannya di sebuah kebun, Urwah selalu dekat dengan Alquran. Setiap kali masuk kebun, ia selalu membaca surah Al-Kahfi ayat 39.
Allah berfirman,
Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘Maa syaa Allaah, laa quwwata illaa billaah’ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (Al Kahfi: 39)
Seperti itulah di anta hikmah yang diajarkan Urwah bin Zubair. Sabar dan yakin terhadap ayat-ayat-Nya, merupakan kunci sukses seseorang meraih kepemimpinan di dalam agama ini. Sebuah kepemimpinan dalam mengarahkan umat kepada jalan yang lurus sesuai dengan rambu-rambu agama yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. (mnh/berbagai sumber)
http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/mereguk-mata-air-sabar-urwah-bin-zubair.htm
Al-‘Abid Al-Haramain, Fudhail bin Iyadh
Beliau bernama Abu Ali Al-Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbu’i. Ulama yang senantiasa begitu akrab dengan Masjidil Haram ini dikenal dengan nasihat-nasihatnya yang begitu menyentuh hati. Matanya memancarkan cahaya keteduhan dari kedekatannya kepada Allah swt.
Ulama yang seangkatan masa hidupnya dengan Imam Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Abdullah bin Al-Mubarak ini lahir di Samarkand pada sekitar tahun 105 Hijriyah dan tumbuh dewasa di kota Abyurd, antara daerah Sarkhas dan Nasa. Setelah belajar hadits di Kufah, beliau menetap di Makkah.
Abu Ali, begitu panggilan akrab Fudhail bin Iyadh, selalu akrab dengan lingkungan Masjidil Haram di Makah dan Masjid Nabawi di Madinah. Masyarakat sezamannya yang ingin mendapatkan nasihat dan ilmu hadits dari beliau tidak begitu sulit mencari keberadaan beliau. Di dua tempat itulah beliau selalu berada.
Ciri khas lain dari Fudhail adalah wajahnya yang menampakkan seperti bekas menangis karena kesedihan yang teramat dalam. Fudhail bin Iyadh seperti digambarkan oleh Abdullah bin Al-Mubarak, “Jika aku melihat Al-Fudhail, muncul rasa sedih dalam diriku. Kesedihan yang tiba-tiba kurasakan begitu lain dari yang lain. Aku tiba-tiba seperti benci terhadap diriku sendiri. Maka saat itu juga, aku tidak bisa lagi membendung isak tangisku.”
Apabila Al-Fudhail menyebut nama Allah, atau ada seseorang yang menyebutkannya nama Allah, atau mendengar ayat-ayat suci Alquran dibacakan seseorang, maka akan terlihat perubahan wajahnya yang tiba-tiba menampakkan kesedihan. Air matanya langsung berlinang, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya menjadi terharu.
Sosok Fudhail memberikan sebuah cerminan tentang kelembutan dan kejernihan hati seseorang yang terus terpoles dengan kekhusyukan zikrullah. Hatinya begitu sensisitif dengan alunan tilawah Quran dan kekhusyukan ibadah. Tak ada respon lain dalam dirinya kecuali isak tangis yang tak lagi tertahan.
Seorang ulama yang bernama Ishaq bin Ibrahim Ath-Thabari pernah menuturkan. “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih memperlihatkan rasa takutnya kepada Allah dan tidak berharap sesuatu kepada manusia, selain Al-Fudhail. Ketika beliau membaca Alquran, dibacanya firman Allah itu dengan lambat, syahdu, dan begitu menyentuh hati. Seolah, beliau sedang berbicara dengan seseorang. Ketika beliau membaca ayat-ayat tentang surga, beliau baca ayat itu berulang-ulang, seraya memohon doa kepada Allah untuk bisa mendapatkannya.”
Seseorang pernah berkunjung kepada Al-Fudhail untuk mendapatkan nasihat. Beliau pun mengungkapkan, “Kosongkan hatimu dari yang lain kecuali rasa takut dan tangismu kepada Allah swt. Jika keduanya sudah bersarang di hatimu, maka takut dan tangis itu akan membentengimu dari melakukan maksiat dan menjauhkanmu dari api neraka.”
“Jika kamu merasa begitu berat untuk menunaikan qiyamul lail dan berpuasa di siang hari, maka ketahuilah, sesungguhnya dirimu telah terbelenggu oleh dosa dan maksiat yang kamu perbuat.”
Nasihat lain yang pernah beliau sampaikan adalah Tidak perlu dikhawatirkan seseorang jika telah berkumpul tiga hal dalam dirinya. Ia bukan ahli bid’ah, tidak mengumpat dan mencela ulama salaf, dan terakhir, tidak bersekutu dengan penguasa.
Jika malam mulai datang, Al-Fudhail bin Iyadh biasa menggelar sejadahnya untuk menunaikan qiyamul lail. Ia terus dalam keadaan shalat, hingga rasa kantuk yang tak tertahankan. Ia pun berbaring sebentar di atas sajadah itu, untuk kemudian kembali shalat. Ketika lagi-lagi datang kantuk yang tak tertahankan, ia kembali berbaring sebentar. Kemudian, ia pun kembali dalam keadaan shalat. Begitulah seterusnya, hingga datang waktu Subuh.
Ulama yang wafat di Makkah pada tahun 186 Hijriyah ini pernah menyampaikan sebuah nasihat yang begitu dalam.
”Manusia paling berdusta adalah mereka yang mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Manusia paling bodoh adalah mereka yang menunjukkan amal kebaikannya. Manusia yang paling dekat dengan Allah adalah mereka yang paling takut kepada-Nya. Manusia tidak akan sempurna sehingga agamanya mampu mengalahkan nafsunya. Dan, manusia tidak akan binasa sehingga nafsunya mengalahkan agamanya.”
muhammadnuh@eramuslim.com
sumber: Min A’lam As-Salaf, karya Syaikh Ahmad Farid.
sumber: Min A’lam As-Salaf, karya Syaikh Ahmad Farid.
http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/al-abid-al-haramain-fudhail-bin-iyadh.htm
Sabtu, 03 Desember 2011
Nubuat Rasulullah SAW bahwa Romawi dapat Mengalahkan Persia
Dalam Sunannya Tirmidzi meriwayatkan, “Al-Husain bin Huraits menyampaikan kepada kami, ia berkata, ‘Mu’awiyah bin ‘Amr menyampaikan kepada kami dari Sufyan Tsauri dari Hubaib bin Abi ‘Umrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah SWT, ‘Alif laam Miim. Telah dikalahkan angsa Rumawi, di negeri yang terdekat.’ (QS ar-Ruum, ayat 1,2 dan 3.
Ibnu Abbas berkata, ‘Romawi sungguh telah dikalahkan. Kaum musyrikin menginginkan bangsa Persia dapat mengalahkan bangsa Romawi karena mereka dan orang-orang Persia adalah penyembah berhala.
Sedangkan kaum muslimin menginginkan bangsa Romawi dapat mengalahkan bangsa Persia karena orang-orang Romawi adalah Ahlul Kitab. Orang-orang musyrik menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa bangsa Romawi dikalahkan oleh bangsa Persia. Kemudian Abu Bakar menyampaikan hal itu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda,
‘Mereka (bangsa Romawi) akan mengalahkan’ Lalu Abu Bakar menyampaikan sabda Rasulullah SAW tersebut kepada kaum musyrikin. Lalu mereka berkata, ‘Buatlah tempo, apabila kami menang maka kami berhak mendapatkan ini dan itu. Apabila kalian menang maka kalian berhak mendapatkan ini dan itu.
Lalu Abu Bakar membuat tempo, yaitu selama lima tahun. Lalu kaum muslimin tidak menang. Lalu Abu Bakar menyampaikan hal itu kepada Nabi SAW. Beliau bersabda, ‘Tidakkah engkau membuat tempo di bawah sepuluh tahun.’ Abu Sa’id berkata, ‘Kata al-bidh’u artinya jangka waktu dibawah sepuluh tahun.
Ibnu Abbas berkata, ‘Kemudian bangsa Romawi menang.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT, ‘Alif laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi’ sampai firman-Nya, ‘dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya (Surat ar-Ruum, ayat:4,5) Sufyan berkata, ‘Aku mendengar kabar bahwa bangsa Romawi mengalahkan bangsa Persia pada hari peperangan Badar.’”
Takhrij Hadits
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitaab Tafsiir al-Qur’aan, 31 – Bab Wa min suurah ar-ruum 5/343 (hadits 3193) dengan redaksinya. Abu Isa (Tirmidzi) berkata, “Ini adalah hadits shahih gharib, kami mengetahuinya dari riwayat Sufyan ats-Tsauri dari Hubaib bin Abi ‘Umrah.
Juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya 1/276-304 dengan redaksi yang serupa dengan redaksi di atas.
Juga diriwayatkan oleh Thabari dalam kitab Tafsir-nya 21/16 dengan redaksi yang serupa.
Juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabiir-nya 12/29 (hadits 12377) dengan redaksi yang serupa.
Juga diriwayatkan oleh Hakim dalam al-Mustadrak 2/410 dengan redaksi yang serupa. Ia berkata, “Hadits ini adalah hadits shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim, tetapi mereka berdua tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabi sependapat dengannya.
Derajat Hadits
Hadits itu adalah hadits shahih, dinilai shahih oleh Tirmidzi, Hakim dan Adz-Dzahabi.
Terbuktinya Nubuat
Apa yang diberitahukan Nabi SAW itu telah terbukti. Pasukan Romawi mengalahkan pasukan Persia pada tahun ke-2 Hijriah, sembilan tahun setelah Rasulullah SAW memberitakannya. Kemenangan yang diperoleh Romawi ini bertentangan dengan berbagai indikasi dan tanda-tanda yang ada pada saat itu.
Pendek kata, bertentangan dengan perhitungan dan perkiraan manusia. Karena pada saat itu negara Romawi sedang mengalami fase yang sangat genting berupa kelemahan dan kehancuran setelah menderita kekalahan yang telak dari bangsa Persia. Berbeda halnya dengan bangsa Persia. Pada saat itu bangsa Persia sedang mengalami masa keemasan dan kejayaan. Penguasa dan bala tentaranya sangat kuat. Namun kenyataannya, keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat hanya dalam jangka waktu beberapa tahun saja. Berita Al-Qur’an dan Rasulullah SAW terbukti dan menjadi kenyataan, bangsa Romawi berhasil mengalahkan bangsa Persia.
Sumber: 188 Nubuat ar-Rasul – Maa Tahaqaqa Minha wa Maa Yatahaqqa, karya Muhammad Waliyullah an-Nadwi
SEJARAH TERUS BERULANG
Di luar sana banyak kondisi yang tidak saya ketahui. Ternyata ada yah, orang yang dengan susah payah mengumpulkan sisa-sisa makanan orang lain. Semuanya itu dikumpulkan, dicuci dan dimasak ulang.
Kalau ada orang yang mengatakan seminggu tidak makan nasi, ternyata bukan dongeng. Memang nyata ada. Dia hanya makan singkong dan air putih saja.
Dulu mendengarnya hanya sebagai sebuah lelucon anak-anak kost. “Kalau elo kehabisan uang, datang aja ke acara pernikahan. Makan gratis deh.” Kenyataannya memang ada, seorang kepala keluarga ketika mengetahui ada undangan pernikahan, dia tidak pergi sendiri. Dia pergi bersama anak dan isterinya. Bukan karena memenuhi undangan semata, tapi karena tidak ada makanan di rumah.
Sejarah orang-orang kelaparan berulang kembali. Di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ra, beliau mendapatkan seorang ibu sedang memasak batu. Sebuah usaha yang dilakukan sang ibu untuk menenangkan anaknya yang menangis karena kelaparan.
Suatu ketika, Umar berkeliling kampung untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Beliau ditemani sahabatnya Aslam. Sesampainya di kampong terpencil, mereka mendengar ada tangisan seorang anak kecil.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumussalam”, jawab seorang wanita tua yang sedang memasak. Nampak dia sedang mengaduk-aduk sesuatu yang berada di dalam panci.
“Kenapa anak anda? Apakah dia sakit?”
“Tidak…dia tidak sakit. Dia sedang kelaparan.”
Umar dan Aslam menemani ibu itu memasak. Namun satu jam telah berlalu masakan tak kunjung matang.
Umar bertanya, “Apa yang engkau masak wahai ibu? Satu jam telah berlalu, namun masakanmu tak kunjung matang?”
“Lihat saja sendiri.”
Umar dan Aslam itu menghampiri wanita tua itu. Mereka melihat apa sebenarnya yang ada di dalam panci itu.
“Batu?? Mengapa engkau memasak batu??”
“Sejak pagi kami belum makan. Oleh karenanya, aku menyuruh anakku untuk berpuasa, dengan harapan di waktu Maghrib, kami dapat rezeki. Hingga akhirnya dia tertidur. Namun sampai sekarang kami belum dapat makanan. Dia terbangun dari tidurnya dan menangis sambil mengatakan bahwa dirinya lapar.”
“Oleh karenanya,” lanjut wanita tua itu.
“Saya mencoba untuk menenangkannya dengan memasak batu-batu ini. Dengan harapan dia kembali tertidur hingga pagi esok harinya.”
Berlinangan air matalah khalifah Umar. Umar dan Aslam pun segera kembali ke Madinah. Beliau ambil sekarung gandum untuk diberikannya kepada wanita tua itu. Karung itu dibawanya sendiri di atas punggung beliau yang mulia.
Aslam berniat membantu khalifah Umar, “Wahai Amirul Mukminin, berikan padaku! Biar aku saja yang memikul karung itu ”.
Dengan marah, Umar menjawab, “Wahai Aslam, jangan sekali-kali engkau menjerumuskan aku ke dalam neraka. Bila engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah engkau juga sudi memikul beban api neraka di pundakku ini di hari pembalasan nanti?”
Singkat cerita…..
“Wahai ibu, ini aku bawakan sekarung gandum. Segeralah masak, agar anakmu dapat segera makan dan tidak menangis lagi ”, kata Khalifah Umar.
Berita busung lapar bukan berita baru. Anak-anak kekurangan gizi demikian pula. Teman-teman sekalian juga melihat, mendengar dan membaca walau mungkin dalam kasus yang agak berbeda. Tapi intinya sama ‘kelaparan’
Sejarah orang-orang kelaparan terus berulang, kapankah sejarah pemimpin sekaliber Umar akan berulang?
Langganan:
Postingan (Atom)

